[Irjen Pol (P) Drs Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang]
”Saya kira ini merupakan momentum kebangkitan sekaligus penguatan ketahanan pangan kita pascabencana.”
- Gerakan Tanam Perdana Menjadi Penanda Pemulihan Pertanian dan Penguatan Ketahanan Pangan Pascabencana
BENCANA hidrometeorologi yang melanda Aceh beberapa waktu lalu meninggalkan luka mendalam bagi sektor pertanian.
Ribuan hektare sawah dan lahan perkebunan terdampak, mengganggu produksi pangan serta mata pencaharian masyarakat. Namun, di tengah sisa-sisa lumpur dan kerusakan, optimisme mulai tumbuh kembali.
Dari hamparan sawah di Kampung Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, semangat kebangkitan itu ditandai melalui Gerakan Tanam Padi Perdana.
Kegiatan tersebut menjadi simbol dimulainya kembali upaya pemulihan pertanian sekaligus penguatan ketahanan pangan di wilayah yang terdampak bencana.
Aceh Tamiang Bergerak Memulihkan Sektor Pertanian
PEMERINTAH Kabupaten Aceh Tamiang mempercepat langkah pemulihan sektor pertanian pascabencana hidrometeorologi melalui Gerakan Tanam Padi Perdana yang dipusatkan di Kampung Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru. Minggu, 5 Juli 2026 lalu.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs Armia Parmi, MH, bersama Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, yang mewakili Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, serta unsur pemerintah dan pemangku kepentingan sektor pertanian.
Kehadiran para pimpinan daerah tersebut menjadi penegasan bahwa pemulihan sektor pertanian merupakan salah satu prioritas utama pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus memulihkan perekonomian masyarakat pascabencana.
Bupati Armia Pahmi mengatakan, gerakan tanam perdana bukan sekadar dimulainya musim tanam, melainkan menjadi momentum kebangkitan bagi para petani yang sebelumnya terdampak banjir lumpur.
”Saya kira ini merupakan momentum kebangkitan sekaligus penguatan ketahanan pangan kita pascabencana,” ujar Armia.
Menurutnya, pemerintah berkomitmen mengembalikan produktivitas lahan pertanian agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas bercocok tanam secara optimal.
Data pemerintah menunjukkan, bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh menyebabkan kerusakan areal persawahan mencapai sekitar 57.364 hektare, sedangkan sektor perkebunan terdampak seluas 60.438 hektare.
Kondisi tersebut sempat mengganggu produksi pertanian di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang memandang kondisi tersebut sebagai titik awal kebangkitan sektor pertanian melalui berbagai program percepatan pemulihan.











