oleh

Pelaksanaan Uqubat Cambuk di Bireuen Diduga Menyimpang

Bireuen, (AD) – Pelaksanaan Uqubat Cambuk terhadap terpidana pelanggar Qanun Jarimah Khalwat yang berinisial Naz (40) dinilai menyimpang dari aturan Pergub, Nomor 5/2014 Pasal 48 ayat 2, tentang standarisasi Jallad /algojo, dalam Eksekusi yang dilaksanakan di halaman Mesjid Agung, Bireuen, Jumat ( 4/10).

Dugaan penyimpangan Uqubat Cambuk atas nama terpidana perempuan itu, berawal ketika jaksa eksekutor, Ronal Regianto, SH yang menanyakan kepada sang algojo, apakah dirinya sudah siap untuk melaksanakan tugasnya, yang ternyata dijawab dengan tegas dan lugas, bahwa ianya mengatakan dengan perkataan, “SIAP”.

example banner

Suara yang keluar dari mulut algojo/jallad yang bertubuh tinggi besar itu cukup keras dan lantang, yang terdengar jelas oleh publik berdekatan dengan panggung eksekusi tersebut.

Suaranya yang terdengar keras diakui Penasehat Hukum Terpidana, Muhammad Ari Syahputra yang menyatakan sangat kecewa, juga keberatan dengan eksekusi terhadap kliennya itu.

Dalam kesempatan itu, juga dihadirkan hakim pengawas dari Mahkamah Syariah Bireuen, dan seorang dokter dari RSU dr Fauziah Bireuen untuk melihat proses pelaksanaan Uqubat Cambuk bagi pelanggar jarimah khalwat.

Pelaksanaan hukuman cambuk terhadap Naz berlangsung singkat mengingat hanya satu terpidana yang dihadirkan eksekutor, Ronal Regianto, SH dari Kejaksaan Negeri Bireuen, menjalani Uqubat cambuk sebanyak 8 kali, sesuai putusan Mahkamah Agung RI.

Sebelumnya, Naz dalam persidangan di Mahkamah Syariah Bireuen dinyatakan tidak terbukti bersalah, melanggar Pasal 23 ayat 1 Qanun Aceh No 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat, seperti yang dituntut jaksa dari Kejaksaan Negeri Bireuen.

Kasus pelanggar Qanun Aceh itu bergulir sampai ke Mahkamah Agung RI, menyusul kasasi yang yang diajukan jaksa, setelah mempelajar putusan bebas, yang dikeluarkan majelis hakim Mahkamah Syarih Bireuen, mengingat Naz Warga Banda Aceh, tidak terbukti melanggar pasal 23 ayat 1 qanun nomor 6 tahun 2014 tentang hukum inayat.

Dalam memori kasasi yng diajukan ke Mahkamah Agung RI, ternyata dikabulkan sekaligus membatalkan putusan hakim Mahkamah Syariah Bireuen dan mengadili sendiri dengan dinyatakan serta menjatuhkan uqubat 8 x cambuk. Terhadap putusan mahkamah Agung RI, terpidana Naz mengajukan Peninjauan Kembali (PK).

Sedangkan pasangan selingkuhnya yang berinisial Yus sudah lebih dahulu menjalani hukuman Uqubat Cambuk, pada Agustus lalu, setelah Majelis Hakim Mahkamah Syariah Bireuen menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar Qanun Jarimah Khalwat dan menjatuhkan uqubat cambuk sebanyak delapan kali.

Berkaitan dengan putusan Mahkamah Syariah Bireuen, terpidana Yus juga sudah mengajukan PK, seperti dikatakan penasehat hukumnya, Ari Syahputra, SH.

Terpidana, seorang PNS yang bekerja sebagai Penyuluh pertanian di BPP Peudada, yang saat ini, kembali berada di Lapas Bireuen, untuk menjalani pidana penjara karena terlibat dalam kasus lainnya yang ditangani PN Bireuen.

Sebelum menjalani Uqubat Cambuk, Naz yang bekerja sebagai pegawai BPIP Aceh, harus berurusan dengan Mahkamah Syariah, setelah sebelumya, M Nas yang juga suami Naz melaporkan keduanya ke DitRes Kriminal Umum Polda Aceh mengingat perbuatan istrinya yang berselingkuh dengan pemuda idaman lain (PIL).

Perselingkuhan yang terjadi dua anak manusia yang dimabuk asmara itu, di beberapa lokasi di kabupaten Bireuen, yang perbuatan cinta terlarang,diakui mareka,bahkan sempat melakukan hubungan badan sudah berlangsung beberapa kali.

Saat eksekusi terjadi, Naz menangis sesengukan, ketika algojo bertubuh tinggi besar itu, melecutkan cemeti yang terbuat dari rotan mengarah punggungnya.Pada hitungan ke tujuh Ia masih kuat menahan rasa perih, namun pada lecutan ke delapan, Naz nyaris rubuh.

Tapi dengan sigap petugas wanita dari Wilayatul Hisbah (WH) merangkulnya dan kemudian membawa ke mobil ambulance untuk mendapat penanganan medis.

Sementara Penasehat hukum terpidana, Muhammad Ari Syahputra,SH menyebutkan uqubat cambuk yang dilaksanakan di Mesjid Agung Bireuen, diakuinya sangat kecewa dan sangat sangat keberatan terhadap pelaksanaan eksekusi cambuk yang telah diilaksanakan terhadap klennya.

Betapa tidak, dalam pelaksanaan eksekusi tersebut, Jallad/Algojo yang dihadirkan itu, tidak sesuai dengan Pergub N0 5/2018 pasal 48 ayat 2.
Artinya, Uqubat Cambuk, semestinya dilakukan algojo perempuan, mengingat terpidana adalah seorang perempuan, seperti yang dimaksud dalam Pergup.

Tapi,kenyataannya melibatkan Algojo/Jallad yang diduga seorang lelaki,seperti yang terungkap dalam pelaksanaan eksekusi terhap Naz, yang secara spontan terdengar suara Jalad/Algojo, ketika menyatakan kesiapannya,dengan mengeluarkan kata-kata “SIAP”.

Suara yang keluar dari mulutnya, terdengar suara khas laki-laki yang ikut di dengar pengunjung lainnya, yang kebetulan berdekatan dengan panggung eksekusi, yang pada saat itu, dirinya juga berada di loaksi tersebut.

Karena sesuai Pergub N0 5 Tahun 2014, dalam Pasal 48 ayat 2, disebutkan. jika Eksekusi cambuk bagi terpidana perempuan dilakukan oleh Jalad/Algojo Perempuan dan terpidana Laki-Laki dilakukan oleh Jallad laki-laki.”Kami selaku penasehat hukum Naz sangat kecewa dan keberatan dengan eksekusi tersebut,” ujar Muhammad Ari Syahputra, SH.

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Bireuen, Teuku Hendra Gunawan, SH, MH saat menjawab media ini, mengaku tidak bisa memastikan algojo itu, berjenis kelamin laki-laki atau bukan, yang saat itu, sang Algojo mengunakan busana yang menutupi habis bagian tubuhnya, hanya tampak bagian matanya.

“Siapa yang bisa memastikan jika itu Algojo laki-laki, kan enggak ada yang melihat kalau dia laki-laki, bagaimana bisa mengetahuinya apalagi seorang algojo itu, sangat dirahasiakan,” tanggapnya sambil berlalu seusai Uqubat Cambuk di Halaman Mesjid Agung Bireuen.

Disebut-sebut, jika sebenarnya Satpol PP dan WH Kabupaten Bireuen tidak memiliki Algojo perempuan yang bersertifikasi maupun algoijo perempuan yang berpengalaman dua tahun sebagai jallad/algojo.

Sehingga dalam pelaksanaan uqubat cambuk lembaga tersebut diduga ikut berperan melakukan pembohongan publik, dengan melakoni laki-laki “berselimut perempuan”, yang ternyata actingnya tidak sempurna.

Terbukti saat Jaksa menanyakan kesiapannya, dijawab algojo dengan kata-kata “SIAP” yang kata-kata keluar dari mulutnya sendiri, disengaja atau tidak, bahkan bisa jadi kelupaaan, jika dirinya harus berperan sebagai Jallad Perempuan, atau memang WH tidak memahami aturan dari Pergub itu sendiri.

Bagaimana ini..kok bisa ya..WH Bireuen tidak siap dan jangan-jangan Banci alias bencong yang jadi Algojonya. Untuk pelaksanaan Uqubat Cambuk yang telah dilaksanakan beberapa kali di Bireuen, umumnya jalladnya laki-laki, meski diantaranya ada terpidananya perempuan, apakah yang perempuan itu dialgojo jallad laki-laki juga, sebut sumber yang tak ingin namanya disebutkan, tutup sumber itu. (Maimun Mirdaz).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA..