Jakarta, (AD) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan besarnya dampak perilaku korupsi. Korupsi menyebabkan rakyat miskin semakin banyak dan meningkatkan kesenjangan antara masyarakat kaya dan miskin.
Bendahara Negara ini lantas menyebut, korupsi memiliki dampak yang luar biasa merusak dan perilaku yang sangat berbahaya. Cita-cita negara menjadi negara makmur akan terhambat bahkan tidak pernah terwujud
“Akan terjadi inequality (ketimpangan) dan poverty (kemiskinan) yang terus menerus. Menciptakan kesenjangan yang luar biasa, menciptakan kerusakan dalam kehidupan sosial ekonomi,” kata Sri Mulyani dalam acara Puncak Hari Anti Korupsi Sedunia, Rabu (8/12/2021).
Dia menuturkan, negara dengan tingkat korupsi yang tinggi tidak bisa maju meskipun punya sumber daya alam yang melimpah. Selalu ada kesulitan akses di semua bidang, baik pendidikan, kesehatan, hingga akses air bersih.
Indeks persepsi korupsi di Indonesia sendiri sudah membaik, meski sempat mengalami penurunan lagi pada tahun 2020. Indonesia kata Sri Mulyani, masih memiliki pekerjaan rumah untuk bertransformasi menjadi negara yang tak ramah terhadap korupsi.
“Kita bisa dengan mudah mendapatkan bukti, bagaimana negara yang tidak bisa mengatasi korupsi meski mereka memiliki natural resources, banyak masyarakatnya yang kelaparan, yang tidak bisa mendapat pendidikan, bahkan untuk dapat air bersih pun tidak diperoleh,” ujar Sri Mulyani.











