Untuk itu melalui peran serta organisasi kepemudaan mahasiswa, kata Nova, diharapkan dapat memberikan dan membawa pemuda Aceh untuk bisa lebih maju dan melek terhadap kondisi daerah, dengan tetap berkata benar, santun, dan punya idealisme yang kuat, tanpa ada maksud atau ditunggangi oleh kepentingan pihak tertentu.
“Saya tidak anti kritik, tapi jika sudah fitnah sudah lain ceritanya. Pada dasarnya Gubernur dan Pemerintah Aceh itu bekerja berdasarkan perundang-undangan jadi saya tetap berusaha untuk bekerja normative dan on the track,” tandas Nova.
Gubernur Aceh itu mencontohkan seperti isu bahwa KMP Aceh Hebat yang dibeli Pemerintah Aceh merupakan kapal bekas. Padahal faktanya jauh dan bertolakbelakang dengan yang diisukan. Karena kapal milik rakyat Aceh itu telah tersertifikasi dan memiliki nomor IMO. Nomor yang wajib dimiliki setiap kapal baru, sebelum kapal tersebut diperbolehkan untuk berlayar.
“Bahkan saya yang didampingi Kajati Aceh saat itu ikut melihat dan melakukan pengelasan plat besi pertama, masa dibilang bekas, kalau bekas tidak bakal keluar nomor identifikasi kapalnya (IMO), tapi terbukti Aceh hebat memiliki IMO,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Banda Aceh, M Fathir Ma’ruf menyampaikan bahwa sebuah kehormatan bagi KAMMI Banda Aceh bisa berjumpa langsung dengan orang nomor satu di Aceh, setelah pergantian kepengurusan baru pada 3 Maret lalu.
Ia mengaku, sebagai salah satu organisasi kepemudaan Muslim di Indonesia khususnya Aceh, siap mewujudkan visi misi Aceh Hebat saat ini. “Kami siap bersinergi menuntaskan visi dan misi di sisa masa jabatan dan menunggu ajakan Pak Gubernur untuk bisa ikut terlibat dalam aksi pembangunan Aceh,” ujarnya. Pertemuan itu tetap menerapkan protokol kesehatan, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.[ril]









