Kesedihan Keluarga Napi Jelang Lebaran di Tengah Pandemi Covid -19

oleh -529 Dilihat

Banda Aceh (AD)- Ratna (nama samaran-red) sempat mengira bahwa mobil Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh yang parkir di samping rumah membawa pulang bebas suaminya dari penjara.

“Saya kira Bapak-bapak ini membawa pulang suami saya. Sudah dua bulan ini ia tidak diperbolehkan menjenguk suaminya demi mencegah virus corona,” kata Ratna dengan nada sedikit kecewa, Rabu 20 Mei 2020.

Kedatangan Tim ACT Aceh dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Banda Aceh bersama perwakilan Kemenkumham Aceh sendiri untuk memberikan bantuan beras, perlengkapan sekolah, dan uang tunai kepada Ratna dan anak-anaknya.

Ratna kini berjuang keras demi menjaga dapurnya agar tetap berasap. Ia berdagang kecil-kecilan di depan rumah dan membuka usaha laundry. “Saya sangat bersyukur adanya bantuan ini. Akhirnya saya bisa membelikan pakaian baru hari raya untuk anak-anak saya,” ungkapnya.

BACA..  Kapolda Aceh Bersama Kepala BPBA Patroli Udara Pantau Titik Karhutla

Ratna berusaha tegar mengisahkan untaian cerita mengapa suaminya bisa masuk ke dalam sel. Awalnya, keluarga mereka baik-baik saja. Namun, sang suami tergiur ajakan melakukan tindakan kriminal agar bisa melunasi utang rumah. Tidak berselang lama melakukan tindakan terlarang, ia tertangkap polisi. Vonis penjara 8 tahun lebih dijatuhkan hakim. Dua tahun lebih sudah ia menjalani masa tahanan.

Sementara itu, di lokai berbeda, sambil memeluk putri kecilnya, Fitri (nama samaran-red) tidak bisa lagi membendung air matanya yang mengalir deras membasahi pipi tatkala menceritakan kondisi keluarganya kepada tim ACT Aceh, MRI Banda Aceh, dan perwakilan Kemenkumham Aceh saat mengunjunginya.

Fitri adalah salah seorang perempuan yang tengah berjuang menafkahi anaknya seorang diri. Suaminya ditangkap polisi akibat tersandung sebuah kasus. Kini ia tinggal bersama ibunya. Penghasilannya setiap minggu hanya Rp 80.000 dari jasa menyetrika pakaian di dua rumah warga. Ia berhemat sebisa mungkin dengan uang tersebut.

BACA..  Pendaftaran Bhayangkara Run 2026 Ditutup 15 Juni

Beberapa waktu lalu ia pernah mencoba usaha menjual sayur dengan membuka lapak berupa meja seukuran meja sekolah di depan rumah. Namun ia terpaksa berhenti. “Sayur dagangan saya tidak laku. Modal pun tidak ada,” ujar lulusan D3 di salah satu perguruan tinggi di Aceh.

Kesedihannya semakin menguat selama dua bulan ini. Ia tidak diperbolehkan menjenguk sang suami karena penerapan tindakan pencegahan corona. Sementara putrinya terus meminta agar bisa bertemu dengan sang ayah yang sudah menjalani masa tahan 2 tahun lebih dari vonis 8 tahun.

BACA..  ‎Pemerintah Aceh Pastikan Penanganan Korban KMP Aceh Hebat 2 Jadi Prior‎itas

Melihat kondisi Fitri, orang di sekitarnya ikut merasa iba. Terkadang orang sekelilingnya memberikan bantuan. Masyarakat tidak pernah menjatuhkan stigma negatif kepadanya meskipun sang suami telah berada di balik jeruji besi.

Kepala Cabang ACT Aceh Husaini Ismail berharap, bantuan yang diberikan Kemenkumham Aceh melalui ACT Aceh dapat bermanfaat. “Bu, anak-anak ini perlu dijaga agar tidak tercemar dengan lingkungan negatif,” pintanya.

Selain itu, Husaini juga menuturkan, bahwa kesilapan orang tua tidak boleh diturunkan kepada anak-anaknya. Maka, sudah seyogianya kita membantu anak-anak seperti itu agar mereka menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan agama.

“Ayo kita peduli kepada mereka. Kita rangkul agar mereka merasa memiliki bahwa ternyata orang di sekitar masih peduli,” pungkasnya. (AF/R)