Marlina Muzakir: Produk Kerajinan Aceh Harus Mendunia

oleh -640 Dilihat

Namun, perjalanan Fitri Souvenir tak selalu mulus. Fitriani mengaku pandemi Covid-19 sempat membuat usahanya sedikit tersendat. “Banyak pesanan yang batal diambil. Tapi berkat dukungan pemerintah, kami bisa bertahan dan tetap memberdayakan masyarakat,” katanya.

Salah satu inovasi yang menjadi kebanggaan Fitriani adalah memperkenalkan motif Aneuk Muling sebagai ikon baru kerajinan khas Pidie. “Motif ini kami buat untuk mempromosikan kekayaan budaya daerah. Saya menyampaikan ide ini ke Ibu Cut, lalu diterjemahkan menjadi motif yang melambangkan kemakmuran,” jelasnya.

BACA..  Pemerintah Aceh Desak BNPB Merekonstruksi Empat Jembatan Gantung 

Marlina berharap lebih banyak UMKM Aceh yang mengikuti jejak Fitri Souvenir dalam membawa budaya Aceh ke kancah dunia. “Kita harus bangga dengan karya sendiri. Dengan sinergi semua pihak, InsyaAllah produk Aceh akan semakin dikenal dunia,” ujar Marlina.

Kunjungan ke Rumah Perajin Kasab

Usai dari Fitri Souvenir, Marlina melanjutkan kunjungan ke rumah Melisa, seorang perajin kasab di Gampong Dayah Beuah.

Di sana, Marlina menyaksikan empat perempuan tengah menyulam benang emas di atas dua lembar kain kasab berukuran sekitar dua meter. Kain-kain tersebut nantinya akan digunakan untuk menghias pelaminan pengantin.

BACA..  Polda Aceh PTDH Anggota Polres Aceh Selatan Diduga Terlibat Perampokan Toko Emas

Melisa mengungkapkan, untuk menyulam satu kain kasab dengan benang emas, biasanya membutuhkan waktu hingga satu bulan. “Untuk satu kain, kami dibayar Rp250 ribu,” kata Melisa.

Ia bercerita, saat ini para perajin hanya mengerjakan pesanan dari para toke di Kecamatan Indra Jaya. “Kami hanya menyulam sesuai pesanan. Kalau ada modal, kami ingin sekali mengembangkan usaha sendiri,” ungkapnya.

BACA..  Kapolda Aceh dan Pangdam Iskandar Muda Takziah ke Rumah Duka Pratu Galuh Nugraha

Menurut Melisa, menyulam benang emas sudah menjadi tradisi di kalangan perempuan setempat, dari remaja hingga orang tua. “Kalau tidak ke sawah, kami menyulam. Hampir semua perempuan di sini bisa,” ujar dia.

Melisa berharap ada perhatian dari pemerintah. “Kalau bisa, ada bantuan untuk modal, supaya kami bisa mandiri walau usaha kecil-kecilan,” harapnya. (*)