Banda Aceh (ADC)- Zaman dahulu Aceh pernah berjaya bersama bendera Alam Peudeung (AP). Hal ini menujukkan, bahwa Aceh sejak dulu telah punya bendera sendiri yang memiliki nilai historis.
Penegasan ini disampaikan oleh Pengemban Amanah Waris DiRadja Keradjaan Atjeh Darussalam PSB DYMM Tuanku Muhammad (I) ZN AL-Haj kepada media atjehdaily.id, Senin 29 Juli 2019 malam.
Menurut Tuanku Muhammad, bendera Alam Peudeung pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda. “Bahkan, bendera Aceh itu diakui oleh dunia internasional yang pernah membesarkan dan menjayakan Aceh zaman dahulu,” jelasnya.
Tuanku Muhammad mengatakan, jika persoalan bendera Aceh yakni bendera bulan bintang yang pernah digunakan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tidak menemukan titik terang dari Pemerintah Pusat, maka lebih baik Aceh menggunakan bendera Alam Peudeung.
“Ini hanya sebuah saran untuk segera menyelesaikanmasalah bendera Aceh yang hingga saat ini Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Aceh belum kembali membahas persoalan bendera bulan bintang yang didesain oleh Tgk Muhammad Hasan Ditiro untuk menjadi bendera Aceh,” imbuhnya.
Menurut Tuanku Muhammad, hal yang paling penting dilakukan di Aceh saat ini adalah, meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh serta membangun kebersamaan demi kemakmuran masa depan Aceh.
“Kalau bendera alam peudeung, mencerminkan keluhuran dan peradaban Aceh serta menggambarkan religiusitas masyarakat Aceh dan sampai sekarang itu masih ada. Maka sebaiknya Pemerintah Aceh mempertimbangkan untuk dijadikan bendera Provinsi Aceh menggantikan bendera bulan bintang yang ditolak oleh Pemerintah Pusat,” tegasnya.
Apalagi, kata Tuanku, saat ini peradaban Aceh sedikit mengalami kemunduran sehingga perlu dilakukan perubahan oleh semua pihak di Aceh.
“Menjadikan alam peudeung sebagai bendera Aceh bisa membangkitkan kembali semangat masyarakat Aceh untuk membangun. Dulu bendera alam peudeung pernah dikenal dan berjaya di Aceh serta terekam dalam berbagai sejarah Aceh. Begitu juga, tentang bendera bulan bintang yang digunakan oleh GAM dulunya mempunyai kenangan tersendiri dan terekam banyak di monumen-monumen peradaban dunia,” ucapnya.
Masih kata Tuanku, berdasarkan catatan sejarah dari berbagai sumber, bendera resmi kerajaan Aceh adalah dasar merah dengan bulan bintang di tengah sebagai simbol Islam sama seperti bendera Negara Turki.
“Hal itu menunjukkan, bahwa kerajaan Aceh berlandaskan Alquran dan Alhadist. Sementara pedang merupakan lambang kedaulatan Aceh dan juga menunjukkan sifat orang Aceh yang tegas dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Ada istilah di Aceh; hudep saree matee syahid, salah narit peudeung peuteupat, salah seunambat teupeuroe dumna,” tuturnya.
Selain itu. Pewaris kerajaan Aceh ini juga menjelaskan, penambahan pedang pada bendera tersebut, sebagai sifat orang Aceh diletakkan di bawah bintang bulan.
“Kesamaan bendera Turki dengan alam peudeung Aceh, menandakan hubungan Aceh dan Turki sangat harmonis pada masa dahulu,” ungkapnya.
Setelah hampir 125 tahun, Bendera Alam Peudeung tidak berkibar di bumi Atjeh, setelah Upacara Istiadat Resmi Waris DiRadja Atjeh Darussalam yang saat ini dipimpin oleh PSB DYMM Tuanku Muhammad (I) ZN AL-Haj sebagai Pemegang/Pengemban Amanah Waris DiRadja Keradjaan Atjeh Darussalam pada 1 Muharram 1440 H / 11 September 2018 setahun silam, pada saat Upacara Resmi Perayaan Tahun Baru Islam 1440 H dan dihadiri oleh tamu-tamu undangan DiRadja dari Nusantara dan Luar Negara. (Ahmad Fadil)











