Dan Akhirnya M Nur Pun Dilantik

oleh -930 Dilihat

KUALASIMPANG (AD) – Partai Demokrat kini boleh sumringah, sebab ‘putra mahkotanya’ Muhammad Nur telah dilantik menjadi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Selasa 2 Juni 2020 lalu, pada sidang paripurna DPRK setempat.

Sebab perseteruan panjang didalam internal kubu partai, menyisakan heroik elit politik di Dikabupaten, Propinsi dan Pusat; partai berlambang ‘Mercy’ itu.

Saat ditemui dalam bincang beberapa waktu lalu diruang kerjanya, Muhammad Nur menjawab ringan seputar siapa yang layak duduk sebagai wakil ketua di DPRK. “Kita serahkan semuanya kepada kebijakan partai, saya tidak punya wewenang untuk itu,” sergahnya pada atjehdaily.id.

Tiga bulan Muhammad Nur ‘anteng’ menjalankan fungsi tugas sebagai anggota DPRK, dia tau, kalau posisi wakil pada saat itu kosong, meski Anggota DPRK sudah terbentuk dan dilantik.

Hanya karena kekosongan seorang Wakil Ketua, menyebabkan kebijakan DPRK berjalan timpang, seyogianya setiap keputusan dan kebijakan harus ditanda tangani oleh Ketua dan masing masing Wakil Ketua.

Kekosongan Wakil Ketua di DPRK Aceh Tamiang, mengakibatkan ‘preseden’ dimasyarakat karena kurang berjalannya fungsi Legislasi, Pengawasan dan Penganggaran agar terwujudnya pembangunan disemua sektor.

Dan akhirnya bola salju itu mencair tanpa harus digelindingkan, low profile seorang Muhammad Nur dan kepiawaiannya dalam komunikasi politik membuahkan hasil. Kini pebinis swalayan sukses itu dinobatkan duduk ditahta Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang.

Kini perangkat DPRK sudah lengkap, masyarakat menunggu kinerja terbaik dalam kebijakannya sebagai, Pengawas, Legislasi dan Penganggaran.

Muhammad Nur punya andil besar saat ini, dalam menggawangi kinerja DPRK, untuk menuju optimalisasi etos kerja dewan di Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Selain ketua.

Prosesi pelantikan Muhammad Nur, dihadiri oleh 29 anggota DPRK Aceh Tamiang melalui sidang paripurna. Hadir juga, Wakil Bupati Aceh Tamiang, Perwakilan Polres Aceh Tamiang, Dandim 0117/Aceh Tamiang, Perwakilan Kejari Aceh Aceh Tamiang, Ketua Pengadilan Negeri Aceh Tamiang, Ketua Mahkamah Syariah, Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Tamiang, Ketua MPU, Ketua MAA,Ketua MPD, Ketua BNN Aceh Tamiang, Ketua KIP dan Ketua Panwaslih Aceh Tamiang, beberapa Kepala SKPK Aceh Tamiang, dan undangan lainnya

Pelantikan tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah pada 18 Mei 2020 dengan Nomor 171.11/1149/2020 tentang Peresmian Pengangkatan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Tamiang.

Sidang paripurna tersebut langsung dipimpin, Ketua DPRK Aceh Tamiang Suprianto, ST, dia mengajak seluruh anggota dewan untuk membangun hubungan dan atau koordinasi yang baik, saling mendukung antara eksekutif dan legislatif terutama itu, berbagai komponen masyarakat.

Ingatkan Muhammad Nur
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Aceh Tamiang, Nora Idah Nita yang juga anggota DPRA Provinsi Aceh mengingatkan Muhammad agar kritis dan bijak dalam menyikapi persoalan yang ada dikabupaten setempat.

Nora menegaskan, Muhammad Nur harus amanah terhadap seluruh masyarakat di Aceh Tamiang dan tidak berpandangan sempit pada tingkat Daerah Pemilihannya saja.

Dia berpesan Muhammad Nur bisa lebih baik lagi dari dirinya ketika menjabat unsur pimpinan di parlemen Aceh Tamiang. “Muda-mudahan lebih baik dan kritis dari saya,” kata Nora.

Pelantikan M Nur ini sekaligus menjawab pertanyaan publik selama ini siapa diantara tiga orang politisi Demokrat yang menduduki posisi Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang yang dikosongkan selama hampir 8 bulan.

Ini Dia Profile Muhammad Nur
Dua jam bersama Muhammad Nur, lelaki kelahiran 2 Agustus 1973, tepatnya di Pidie Jaya (Pijay) adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, dari partai Demokrat.

Banyak hal dan sisi menarik bisa dipetik yang digelontorkan dari pria ganteng dengan tinggi 175 centimeter itu, sebagai barometer untuk berbuat bagi kepentingan orang banyak.

Sebenarnya, apa?, siapa? Dan mengapa harus Muhammad Nur. Pensiunan dini dikepolisian itu berbinis Swalayan, kini duduk dianjangsana kursi dewan sebagai wakil rakyat, dari Daerah Pemilihan (Dapil) Satu.

Debut Muhammad Nur ke kursi Parlemen bak meteor, melejit mulus. Dari politik Bisnis nangkring ke politik praktis, adalah seorang yang gigih dan ulet.

“Jatuh bangun adalah hal yang lumrah dalam praktik bisnis, tapi jangan pernah mengalah untuk satu iktikad baik yang tertunda,” tegasnya kepada penulis.

Katanya, ‘Jabatan itu Attitude’ apapun yang dipercayakan kepada seseorang, lembaga dan negara adalah amanah yang harus dijalankan sesuai aturan dan kaidah.

Muhammad Nur adalah sosok yang ramah, supel dan sangat piawai memanajerial sosial kemasyarakatan. Dia mampu berakselirasi dengan sangat baik, sehingga masyarakat yang mengenalnya sebagai good father dalam memotivasi.

Karir Dikepolisian
Debut karirnya sebagai seorang Polisi Negara berawal pada tahun 1993, kala itu Muhammad Nur ikut tes Polisi dan lulus, lalu dia dikirim ke Sekolah Polisi Negara (SPN), di Lembah Seulawah, Aceh Besar.

Hari harinya penuh dengan gemblengan fisik dan mental di SPN sebab dia berpikir, seorang polisi yang profesional adalah yang pintar, bijaksana, disiplin dan mampu berkomunikasi dengan baik terhadap lingkungannya secara umum.

“Masih segar dalam ingatan saya, pertama sekali saya ditugaskan, setelah lulus di SPN. Tahun 1994 saya ditempatkan di Polres Kota Langsa di Sat Sabhara, lalu sebagai Bimmas atau Babinkamtibmas. Saya banyak belajar ditugas pertama saya itu.” Jelasnya.

Dua tahun Muhammad Nur menjalankan tugas di Polres Kota Langsa, banyak suka duka yang dia lalui dalam bertugas sebagai Intelkam, “Itu semua adalah proses pendewasaan berpikir dalam melangkah.”

Pada tahun 1996 Muhammad Nur dipromosikan ke Polsek Kota Kualasimpang, kecamatan Kota Kualasimpang (kabupaten Aceh Timur) kala itu.

Tugas barunya penuh dengan tantangan, sebab dia didapuk sebagai anggota Reskrim dan Babinsa. Jabatan dua sisi yang bertolak belakang. Namun Muhammad Nur berpikir ini adalah konsekuensi tugas.

Sebagai anggota Reskrim dan Babinsa; dijalankannya dengan penuh tanggungjawab dan ikhlas. Banyak pendekatan persuasif dilakukan kepada masyarakat dalam mengimplementasikan pola positif dan menjauhi pola pola negatif.

Muhammad Nur mendapat simpati dari masyatakat, dia mampu memainkan perannya sebagai pengayom, mencuri hati dan empati warga kepadanya.

“Ditugas saya ini, banyak belajar tentang karakteristik orang orang disekelililing saya. Senang bisa membina mereka kearah yang lebih baik,” katanya.

Dalam perannya, Muhammad Nur lebih banyak melakukan pembinaan dari pada penindakan. Hal inilah dia disenangi dan sangat disegani warga tempat dia bertugas.

Sebagai Binmas, dialog dengan para tokoh selalu dia lakukan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan pemangku jabatan diwilayah dimana dia sebagai abdi dalem untuk masyarakat.

Empat tahun Muhammad Nur wara wiri diwilayah Polsek Kota Kualasimpang, sebagai Reskrim dan Binmas yang dia lakoni.

Lalu pada awal tahun 2000 dia dipromosikan lagi ke Aceh Timur tepatnya di Polsek Julok. Dimana kondisi Aceh saat itu masih sangat mencekam.

Sebab pusat menetapkan Aceh berstatus Darurat Militer (DM), akibat perseteruan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI kala itu.

Begitupun tak mematahkan semangat Muhammad Nur untuk memberikan Trauma Healing, kepada masyarakat yang berada diarea Polsek Julok, akibat tekanan konflik berkepanjangan.

Muhammad Nur melakukan pendekatan berjenjang kepada warga, memberikan ide ide brilliant yang dimilikinya agar masyarakat tidak memandang aparat sebagai musuh.

Yang penulis ingat, pertama sekali dia lakukan adalah, pendekatan persuasif, lalu mencurahkan bentuk pemikiran kreatif.

Seperti membuka kursus komputer dan bahasa inggris, masyarakat menyambut baik ide itu. Kedekatan Muhammad Nur tak dipungkiri lagi.

Kursus Bahasa Inggris dan Komputer serta pendidikan umum berjalan, sampai mencari guru untuk sekolah umumnya. Ide kreatif dan inovasinya mampu mensugesty masyarakat, sehingga usaha tersebut berkembang dengan baik.

Kedekatan masyarakat dengan aparat keamanan di seputar Polsek Julok berjalan sangat harmonis, membuang image bahwa aparat itu seram dan ganas.

Empat tahun dia bertugas di Polsek Julok yang penuh dengan kesan heroik bersama preseden aparat keamanan masa itu.