Banda Aceh (AD)- Pekan Hari Disabilitas Internasional tahun 2022 diisi dengan serangkaian kegiatan edukatif oleh Tim Sekolah Luar Biasa The Nany Children Centre (SLB TNCC), setelah kemarin 3 Desember 2022 mengadakan Longmarch (Jalan santai) dengan 312 peserta.
Hari ini, Selasa 6 Desember 2022, SLB TNCC mengadakan seminar internasional dengan mendatangkan pakar yang bekerja di bidang pendidikan khusus dari universitas terkemuka di Malaysia.
Adapun tema yang diangkat “Communication Disorder : Let’s Practice and Talk”. Tema ini diambil mengingat banyaknya kasus masalah komunikasi pada anak tidak hanya disabilitas bahkan anak normal terutama di usia dini sehingga perlu diberi pemahaman yang benar agar dapat menstimulasi perkembangan anak dengan optimal.
Ketua Panitia GHDI SLB TNCC, Nanny Wahyu Afriyola, S.Pd melaporkan, kegiatan seminar ini dihadiri oleh 250 orang baik dari kalangan mahasiswa, guru, organisasi disabilitas, orang tua murid SLB TNCC dan peserta umum lainnya.
“Pada Seminar ini, SLB TNCC juga mempersembahkan teater Musikal dengan tema “see the able not the label” oleh guru dan siswa-siswi dari terapi dan SLB TNCC,” kata Nanny.
Selain itu, ia juga menyebutkan, beberapa stand bazar juga tampak meramaikan seminar internasional ini dengan hasil karya kreativitas guru dan kewirausahaan sekolah seperti handicraft, keripik dari hasil keterampilan pilihan siswa-siswi SMPLB, hiasan dinding kasab Aceh hasil Mata pelajaran Muatan lokal (mulok) lukisan hasil kelas ekstrakurikuler bakat minat dan ada juga stand bazar dari beberapa sponsor acara.
Kepala SLB TNCC Banda Aceh, DM. Ria Hidayati, S.Psi.,M.Ed dalam sambutannya menyampaikan bahwa penanganan siswa disabilitas harus dilakukan secara komprehensif dan dimulai dari skala yang paling kecil mulai dari keluarga sampai kepada level masyarakat.
Ria Hidayati menjelaskan, SLB TNCC di usianya yang sudah delapan tahun ini terus berupaya untuk memberikan layanan pendidikan baik secara formal dan informal serta memberdayakan seluruh stakeholders di dalamnya melalui berbagai program pemberdayaan yang ada dan dilakukan secara rutin.
“Gebyar hari disabilitas (GHDI) ini merupakan program terbesar TNCC karena hadir untuk masyarakat luas dan bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terkait pemahaman dan penanganan anak berkebutuhan khusus dengan metode yang mudah dan sederhana,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menuturkan, seminar yang diselenggarakan hari ini dengan mengangkat tema tentang masalah komunikasi pada anak bertujuan untuk membantu semua pihak terkait untuk mengenal gejala yang mempengaruhi kemampuan bicara anak dan bagaimana mengoptimalkannya agar dapat berkomunikasi dengan baik terutama di usia 5 tahun pertama.
Ketua Yayasan Rumah Kita Indonesia (YRKI) DR. H. Dahlawi, M.Si dalam sambutannya menyampaikan harapan yang besar akan perhatian pemerintah terhadap sekolah luar biasa, karena tugas mulia ini membutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan.
“Yayasan Rumah Kita Indonesia terus berupaya menghadirkan layanan pendidikan khusus yang berbeda dan berfokus pada pengembangan isu disabilitas yang lebih komprehensif,” ungkap Dahlawi.
Slogan TNCC dari Aceh to Indonesia digaungkan sebagai wujud impian YRKI untuk membawa TNCC ke kancah yang lebih luas agar dapat menebar manfaat yang lebih banyak bagi semua yang membutuhkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Drs. Alhudri, MM dalam sambutannya menyampaikan, menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah hal yang serius dan diharapkan untuk membuang segala bentuk pencitraan.
“Anak emas adalah anak yang harus diberikan perhatian khusus dan berkesinambungan agar mendapatkan perhatian yang utuh dari berbagai pihak terutama lembaga sekolah luar biasa,” kata Alhudri.
“Pemerintah Aceh memberikan perhatian yang besar bagi Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) dalam berbagai bentuk dan berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan peserta didik dengan berbagai program yang ada,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Ria menambahkan, kegiatan seminar berjalan lancar dan meriah yang dimoderatori oleh Harri Santoso, S.Psi.,M.Ed yang saat ini bekerja sebagai salah satu dosen di UINAR.
Adapun materi yang disampaikan oleh DR. Nor Siti Rokiah Abdul Razak dari Quest Internasional university (QIU) Malaysia sangat aplikatif bagi orang tua dan praktisi pendidikan khusus demi membantu perkembangan komunikasi anak.
Selain itu, sesi tanya jawab juga berlangsung lancar dan diskusi tampak seru antara pemateri dan peserta. Kegiatan ditutup dengan doorprize yang telah disponsori oleh banyak pihak.
“Harapannya, kegiatan ini bisa membuka wawasan banyak pihak terkait masalah komunikasi pada anak. Semoga di kelas workshop besok banyak yang mendaftar lagi untuk belajar lebih mendalam terkait terapi wicara, terapi okupasi dan terapi tari/pergerakan kreatif,” tutup Ria. (*)










