Jabatan Itu ‘Attitude’

oleh -573 Dilihat

ACEH TAMIANG, (AD) | Dua jam bersama Muhammad Nur, lelaki kelahiran 2 Agustus 1973, tepatnya di Pidie Jaya (Pijay) adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, dari partai Demokrat.

Banyak hal dan sisi menarik bisa dipetik yang digelontorkan dari pria ganteng dengan tinggi 175 centimeter itu, sebagai barometer untuk berbuat bagi kepentingan orang banyak.

Sebenarnya, apa?, siapa? Dan mengapa harus Muhammad Nur. Pensiunan dini dikepolisian itu berbinis Swalayan, kini duduk dianjangsana kursi dewan sebagai wakil rakyat, dari Daerah Pemilihan (Dapil) Satu.

Debut Muhammad Nur ke kursi Parlemen bak meteor, melejit mulus. Dari politik Bisnis nangkring ke politik praktis, adalah seorang yang gigih dan ulet.

“Jatuh bangun adalah hal yang lumrah dalam praktik bisnis, tapi jangan pernah mengalah untuk satu iktikad baik yang tertunda,” tegasnya kepada penulis.

Katanya, ‘Jabatan itu Attitude’ apapun yang dipercayakan kepada seseorang, lembaga dan negara adalah amanah yang harus dijalankan sesuai aturan dan kaidah.

Muhammad Nur adalah sosok yang ramah, supel dan sangat piawai memanajerial sosial kemasyarakatan. Dia mampu berakselirasi dengan sangat baik, sehingga masyarakat yang mengenalnya sebagai good father dalam memotivasi.

Karir Dikepolisian
Debut karirnya sebagai seorang Polisi Negara berawal pada tahun 1993, kala itu Muhammad Nur ikut tes Polisi dan lulus, lalu dia dikirim ke Sekolah Polisi Negara (SPN), di Lembah Seulawah, Aceh Besar.

Hari harinya penuh dengan gemblengan fisik dan mental di SPN sebab dia berpikir, seorang polisi yang profesional adalah yang pintar, bijaksana, disiplin dan mampu berkomunikasi dengan baik terhadap lingkungannya secara umum.

BACA..  Kapolres Aceh Selatan Janji Rehab Rumah Janda Eks Kombatan GAM Hingga Bantu Modal UMKM

“Masih segar dalam ingatan saya, pertama sekali saya ditugaskan, setelah lulus di SPN. Tahun 1994 saya ditempatkan di Polres Kota Langsa di Sat Sabhara, lalu sebagai Bimmas atau Babinkamtibmas. Saya banyak belajar ditugas pertama saya itu.” Jelasnya.

Dua tahun Muhammad Nur menjalankan tugas di Polres Kota Langsa, banyak suka duka yang dia lalui dalam bertugas sebagai Intelkam, “Itu semua adalah proses pendewasaan berpikir dalam melangkah.”

Pada tahun 1996 Muhammad Nur dipromosikan ke Polsek Kota Kualasimpang, kecamatan Kota Kualasimpang (kabupaten Aceh Timur) kala itu.

Tugas barunya penuh dengan tantangan, sebab dia didapuk sebagai anggota Reskrim dan Babinsa. Jabatan dua sisi yang bertolak belakang. Namun Muhammad Nur berpikir ini adalah konsekuensi tugas.

Sebagai anggota Reskrim dan Babinsa; dijalankannya dengan penuh tanggungjawab dan ikhlas. Banyak pendekatan persuasif dilakukan kepada masyarakat dalam mengimplementasikan pola positif dan menjauhi pola pola negatif.

Muhammad Nur mendapat simpati dari masyatakat, dia mampu memainkan perannya sebagai pengayom, mencuri hati dan empati warga kepadanya.

“Ditugas saya ini, banyak belajar tentang karakteristik orang orang disekelililing saya. Senang bisa membina mereka kearah yang lebih baik,” katanya.

Dalam perannya, Muhammad Nur lebih banyak melakukan pembinaan dari pada penindakan. Hal inilah dia disenangi dan sangat disegani warga tempat dia bertugas.

BACA..  Pembangunan Jembatan Perintis Reje Payung Tuntas, Safrizal Acungkan Jempol untuk Prajurit TNI

Sebagai Binmas, dialog dengan para tokoh selalu dia lakukan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan pemangku jabatan diwilayah dimana dia sebagai abdi dalem untuk masyarakat.

Empat tahun Muhammad Nur wara wiri diwilayah Polsek Kota Kualasimpang, sebagai Reskrim dan Binmas yang dia lakoni.

Lalu pada awal tahun 2000 dia dipromosikan lagi ke Aceh Timur tepatnya di Polsek Julok. Dimana kondisi Aceh saat itu masih sangat mencekam.

Sebab pusat menetapkan Aceh berstatus Darurat Militer (DM), akibat perseteruan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI kala itu.

Begitupun tak mematahkan semangat Muhammad Nur untuk memberikan Trauma Healing, kepada masyarakat yang berada diarea Polsek Julok, akibat tekanan konflik berkepanjangan.

Muhammad Nur melakukan pendekatan berjenjang kepada warga, memberikan ide ide brilliant yang dimilikinya agar masyarakat tidak memandang aparat sebagai musuh.

Yang penulis ingat, pertama sekali dia lakukan adalah, pendekatan persuasif, lalu mencurahkan bentuk pemikiran kreatif.

Seperti membuka kursus komputer dan bahasa inggris, masyarakat menyambut baik ide itu. Kedekatan Muhammad Nur tak dipungkiri lagi.

Kursus Bahasa Inggris dan Komputer serta pendidikan umum berjalan, sampai mencari guru untuk sekolah umumnya. Ide kreatif dan inovasinya mampu mensugesty masyarakat, sehingga usaha tersebut berkembang dengan baik.

Kedekatan masyarakat dengan aparat keamanan di seputar Polsek Julok berjalan sangat harmonis, membuang image bahwa aparat itu seram dan ganas.

Empat tahun dia bertugas di Polsek Julok yang penuh dengan kesan heroik bersama preseden aparat keamanan masa itu.

BACA..  KPA dan JASA Gelar Pertemuan Tolak Plt Ketua PA Nagan Raya

Hari hari Muhammad Nur penuh dengan jejak rekam bentrokan bersenjata Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah RI. Julok merupakan salah satu basis kekuatan Gerakan Aceh Merdeka kala itu. Masuk dalam daftar daerah pekat catatan Pemerintah Indonesia.

Kepiawaian, smart dalam bersikap dan bertindak menjadikan Muhammad Nur diterima dengan sangat baik di Julok, Aceh Timur. Hari ini 19 tahun silam adalah mimpi buruk dalam catatan hidupnya.

Memulai Berbisnis
Empat tahun bertugas di Polsek kecamatan Julok, kabupaten Aceh Timur Muhammad Nur dipromosikan lagi ke Polres Persiapan Aceh Tamiang pada tahun 2004 sebagai Intelkam.

Dari sinilah debut bisnis waralabanya dimulai, apalagi Muhammad Nur sebelum ditugaskan ke Polsek Julok, Aceh Timur, terlebih dahulu dijajal pada Polsek Kota Kualasimpang selama dua tahun.

Tak ada penyesuaian yang berarti, sebagai Satuan Intelkam Polres Persiapan Aceh Tamiang, dia ditugaskan diempat yang baru tapi berwajah lama. “hanya pindah tugas, tapi saya tak asing disini,” katanya mengisyaratkan.

Sekembalinya Muhammad Nur ke Aceh Tamiang, memberi spirit tambahan, sebab tugas yang diembannya sama persis saat masih bertugas di Aceh Timur.

Bertemu dan berdialog dengan masyarakat sudah menjadi santapan rutinitasnya, tapi kali ini dikota bukan didesa. Banyak wejangan dari hasil dialog bisa diambil, sebagai motivasi dan spirit.