Muhammad Nur banyak menghabiskan waktunya di Pasar Pagi (pusat perbelanjaan kota), melihat, mengamati, aktifitas masyarakat yang berjualan, inspirasinya muncul, naluri bisnisnya bangkit.
Dari berbagai diskusi serta dialog perorangan dan kelompok di Pasar Pagi mengilhami pemikiran dan masukan tetang wira usaha.
Apalagi dirinya bertugas di Kota Kualasimpang, yang merupakan pusat perdagangan. “Banyak ilmu dagang saya dapati selama bertugas dikota, terutama dalam ilmu dagang,”.
Berangkat dari apa yang diperoleh dikota, hasil interaksi dengan para pedagang kaki lima dipusat perdagangan kota Kualasimpang, Muhammad Nur seperti mendapat ilham.
Tak disia-siakan tepatnya tahun 2005 Muhammad Nur memulai membuka bisnis barunya, swalayan dengan nama Saqinah.
Swalayan Saqinah adalah hadiah pernikhan dari Muhammad Nur terhadap gadis yang disuntingnya, Santhy Kurniathy ditahun 2005 itu juga.
Swalayan Saqinah maju dan sangat berkembang dengan pesat, hanya hitungan tahun, ayah dari Rafdi Rizki Putra Noesa, Aditya Daffa Putra Noesa, August Atha Ramadhan Putra Noesa dan Quenna Shareefa Putri Noesa tersebut membuka empat cabang di Kota Kualasimpang, Karang Baru dan Kota Langsa.
Lelaki yang punya hobby olahraga, membaca dan berbisnis itu ternyata putra asli Aceh Tamiang, kelahiran dusun Satelit Graha, Kebun Tanah Terban, kecamatan Karang Baru.
Muhammad Nur terus membesarkan usaha Swalayan Saqinah, banyak tenaga kerja yang terserap, saat ini ada 100 orang tenaga kerja yang dia komandoi dan sudah mengurangi pengangguran dikota kelahirannya.
Putra kelima dari sembilan bersaudara hasil perkawinan Muhammad Ali dan Juairiah terus berkiprah di kepolisian dan bisnis swalayan.
Kurun waktu 2005 – 2014 menujukkan angka prestise dibisnis swalayan, disembilan tahun berjalan menjadikan seorang Muhammad Nur enterpreneuer yang sukses.
Intensitas bisnis swalayannya banyak menyita waktu dan harus mendapatkan standar controling yang sangat akurat. Praktis, kedinasan dikepolisian mengalami collingdown.
Dengan itensitas yang sangat padat; menguras tenaga dan pikiran. Ditahun 2014 Muhammad Nur mengajukan pensiun dini kedinasan di Kepolisian.
Namun upaya itu belum dapat diakomodir oleh atasannya, (saat itu Kapolresnya dijabat oleh Armia Fahmi), dengan berbagai alasan.
Armia Fahmi menyarankan, agar Muhammad Nur mengurungkan niatnya untuk pensiun dini. “Bertugaslah seperti biasa, bagi waktu antara tugas dan usaha,” begitu petikan perkataan pak Armia Fahmi pada saya.
Muhammad Nur berpikir jika pensiun dini tidak dia lakukan akan sangat mengganggu kinerja dikedinasannya. Katanya sulit membagi waktu antara dinas dan wirausaha.
Berpolitik Santun
Ada upaya dilakukan oleh Muhammad Nur, atas saran teman teman agar dirinya ikut terjun ke dunia politik praktis.
Ajakan dan saran itu diamini dan Muhammad Nur, menjadi politik praktis pada bulan Juli 2018, disini dia banyak belajar apa dan bagimana politik itu.
Beranjak dari itu; Muhammad Nur mengajukan pensiun dini, sebab alasannya sudah cukup kuat untuk berhenti dari kepolisian dengan cara yang bijak dan santun.
Bendera partai Demokrat merupakan tempat tepat buat Muhammad Nur memulai perjalanan pokitiknya menjadi seorang yang mumpuni dan diperhitungkan dalam tubuh partai.
Pengajuan pensiun dininya diterima pada bulan dan tahun yang sama, yakni dimedio Juli 2018 dia tidak lagi seorang polisi, tetapi murni Politisi dan Wirausaha.
Aura berpolitik santun terpancar digurat wajahnya yang bersih, sesuai sikapnyanya yang low profile, ramah, wibawa dan juga sangat supel.
Katanya, jangan tanya apa yang sudah diberikan dari orang pada diri kita, tapi tanyalah, apa yang sudah kita beri buat mereka mereka yang butuh pertolongan kita.
Awalnya dia menjadi bagian dari kader partai Demokrat, atas masukan dan ajakan Nora Idahnita (ketua partai Demokrat Aceh Tamiang) untuk mulai debut politiknya.
Nora mengundang Muhammad Nur untuk ngopi bareng, sekaligus memperkenalkan dirinya pada Nova Iriansah ketua DPW Partai Demokrat Provinsi Aceh, yang notabenenya juga Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, saat berkunjung ke Aceh Tamiang di O’Tamiang Coffee.
“Saya awam didunia politik, yang terlintas dalam benak saya, saya harus tunduk dan loyal pada pimpinan partai, serta menjalankan visi dan misi sesuai dengan kaidah Partai Demokrat. Bagi saya, di kepolisian, wirausaha dan politik adalah ‘Pengabdian’ untuk siapapun,” katanya.
Muhammad Nur banyak mendapat bimbingan sebagai kader baru dipartai Demokrat, kata Pengabdian adalah kunci untuk melakukan misinya.
Sebab Pengabdian itu datang dari lubuk hati, bukan atas dasar kemauan atau pemikiran animo bersifat kepentingan. Justru akan merugikan diri sendiri, sebab tidak mampu meraih simpati orang banyak.
Atas dasar Pengadian tadi, Muhammad Nur maju mencalonkan diri sebagai calon anggota dewan Legislatif periode 2018 – 2023 Daerah Pemilihan Satu. Dan menang.
Sebagai pendatang baru dikancah politik, tentunya Muhammad Nur sangat awam namun atas ilmu pendekatan yang dimiliki selama berdinas dikepolisian menjadi lebih mudah melakukan akselirasi dengan masyarakat didaerah pemilihannya.
Hasil akhir Muhammad Nur menang dengan prolehan suara sangat preatise sebagai pendatang baru dikancah politik tapi mampu mendulang suara serta simpati masyarakat.
Karir politiknya berjalan mulus, melejit bak meteor, kursi anjangsana Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang dipetiknya dengan sangat manis.
“Hari ini, saya ada disini karena rakyat Aceh Tamiang, tugas saya selanjutnya adalah Mengabdi buat masyarakat dan Partai, tidak ada tujuan lain, selain mengabdi dan mengabdi,”.
Tak muluk muluk janji seorang politikus santun, seperti Muhammad Nur, tak ada bahasa bersayap, tak ada tendebsius, tak ada persaingan. Yang ada adalah kepentingan abadi dari sebuah revolusi diri.
Lakukan yang terbaik, selama hatimu terintegrasi dengan pemikiran yang bijak, untuk menjadi seorang yang diperhitungkan dan dipertanggung jawabkan dunia akhirat. (Syawaluddin)











