Sementara itu, Sekjen ISMI Juliana Wahid menekankan pentingnya hilirisasi produk Aceh. Ia menyebut, bahwa produk yang dikeluarkan dari Aceh idealnya telah melalui proses pengolahan agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
“Hal ini penting guna meningkatkan daya saing komoditi Aceh di pasar nasional maupun internasional,” ungkap Juliana.
Dari sisi supply chain halal, Marco Tieman mengungkapkan bahwa produk Aceh memiliki potensi besar di pasar Eropa, khususnya Belanda.
Ia mencontohkan komoditas seperti CPO dan kopi Gayo yang dikenal sebagai produk premium. Marco juga menambahkan bahwa produk Aceh tidak hanya harus memenuhi standar halal, tetapi juga memenuhi prinsip toyyib agar dapat bersaing secara global.
Zulfikar dari Disperindag Aceh turut memberikan pemaparan mengenai komoditi ekspor unggulan Aceh serta prosedur penerbitan surat keterangan asal bagi produk yang berasal dari Aceh.
Ia menegaskan, bahwa pemahaman prosedur ini penting agar pelaku usaha dapat menjalankan ekspor secara tertib dan sesuai ketentuan.
Seminar ini diharapkan mampu membuka wawasan para pelaku UMKM Aceh mengenai peluang ekspor berbasis komoditi lokal serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas saudagar Aceh di dalam maupun luar negeri. (*)











