“Itu sudah lama, Bang. Kami ini staf kecil, siapa yang peduli omongan kami? Tapi mungkin kalau ini dimuat di koran, ada yang dengar,” katanya, separuh harap, separuh putus.
Di dalam ruangan Wakil Bupati, beberapa tamu dari Banda Aceh berdatangan. Mereka melihat ke luar jendela dan menyaksikan sendiri: bukan simbolik, bukan pencitraan. Mereka menyebutnya langkah nyata. Mungkin benar, mungkin juga hanya basa-basi pejabat. Tapi hari itu, tangan-tangan mereka pun ikut bergerak.
Seorang staf bagian Kesra, Tarmizi, bercerita tentang kantor yang makin sunyi. Bukan karena malas, tapi karena banyak hal tertahan. Anggaran daerah defisit hingga Rp240 milyar. DPA belum ditandatangani gubernur. Banyak program tak bisa jalan. “Tapi semangat kami masih ada,” katanya, dengan sorot mata yang jujur.
Ia menyebut kerja bakti ini sebagai bentuk cinta. Bukan sekadar membersihkan semak, tapi merawat tempat yang setiap hari mereka datangi, meski tanpa jaminan bahwa segalanya akan membaik esok.
Kantor itu kini terlihat sedikit berbeda. Bunga mulai ditata. Pohon rindang dipertahankan. Tangga diperbaiki. Tapi lebih dari itu, ada kesadaran baru yang tumbuh—bahwa keindahan, keteraturan, dan kebersihan tak harus menunggu anggaran. Ia bisa dimulai dari niat. Dari tangan. Dari halaman belakang yang selama ini dianggap tak penting.
Di negeri yang kerap gaduh dengan wacana besar, langkah kecil ini terasa seperti napas panjang yang dirindukan. Tak mengubah segalanya, tapi cukup untuk mengingatkan: bahwa kerja pemerintahan tak selalu tentang proyek raksasa atau sidang paripurna. Kadang, ia hanya tentang menyapu daun, membetulkan anak tangga, dan menanam kembali rasa memiliki. (JHT)
Foto: Ilustrasi










