Strategi yang dipilih Alhudri untuk mencapai target ini adalah dengan mengalihkan fokus kepada pembangunan kualitas SDM di dunia pendidikan daripada pembangunan sektor fisik. Karena itulah, kalau kita perhatikan, selama Alhudri menahkodai dinas ini, jarang sekali kita melihat adanya proyek pembangunan fisik entah itu gedung sekolah, gedung ini dan itu di dinas ini, ataupun pengadaan yang tidak begitu tinggi urgensinya.
Kalaupun ada proyek fisik, biasanya itu hanyalah renovasi gedung-gedung yang sudah ada. Selebihnya, fokus Alhudri ada pada pengembangan kualitas sumberdaya manusia.
Selama masa kepemimpinannya, guru-guru SMA di Aceh mengenal Alhudri sebagai sosok kepada dinas yang galak. Dia begitu rajin melakukan sidak ke berbagai sekolah dan tanpa tedeng aling-aling mengeritik bawahannya yang menurutnya tak menunjukkan kinerja yang memuaskan.
Dan pada akhirnya, usaha memang tidak mengkhianati hasil. Kerja keras Alhudri yang didukung penuh oleh para penyelenggara pendidikan yang berada di bawah komandonya, tidak membutuhkan waktu lama, tahun ini saja langsung menunjukkan hasilnya.
Tapi memang, karena Indonesia ini adalah negara demokrasi. Meskipun pencapaian tahun ini demikian nyata, bukan berarti Alhudri dan jajarannya serta merta terbebas dari pandangan sinis dan meremehkan bahkan cenderung tidak menganggap serius pencapaian dinas pendidikan tahun ini.
Mulai dari yang menduga pencapaian itu terjadi karena berubahnya pola pendidikan dengan sekolah daring pada masa pandemi, sehingga diduga siswa-siswa Aceh berbuat curang diwaktu ujian masuk perguruan tinggi, sampai yang menyatakan kalau siswa di daerah lain berkurang minatnya masuk perguruan tinggi negeri karena memilih pendidikan vokasi.
Karena itulah, ketika bertatap muka dengan para guru di seluruh Aceh saat dia membawa mandat dari gubernur Aceh, Nova Iriansyah untuk menyampaikan apresiasi atas pencapaian dunia pendidikan Aceh pada tahun ini, Alhudri menegaskan bahwa jangan sampai apa yang dicapai Aceh tahun ini hanya menjadi kisah indah satu malam yang takkan pernah terulang kembali. Dalam bahasa Alhudri, « jangan sampai nanti masyarakat menyatakan ini seperti sebuah gol kebetulan. »
Untuk itu, Alhudri meminta para guru untuk tidak menurunkan fokus akibat pencapaian ini, jangan terlalu lama larut dalam euphoria dan kembali bekerja keras lagi.
Dari dirinya sendiri, Alhudri pun mulai menjaring berbagai praktisi dunia pendidikan yang sudah terbukti di luar Aceh untuk membantu Aceh meningkatkan kualitas siswanya.
Salah satunya, Alhudri memanggil pulang Junaidi Win Tarmulo, seorang praktisi pendidikan yang mengelola salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris di kampung Inggris Pare Kediri, yang sudah banyak membantu siswa dari berbagai sekolah di pulau Jawa untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri. [ADV/https://lintasgayo.co]











