Tujuan studi banding ini, tak lain program jangka panjang dalam pengembangan penerbangan perintis, terutama untuk penerbangan Kargo. Hal ini dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi Aceh, khususnya daerah daratan tinggi, Bener Meriah dan sekitarnya.
Kecuali itu, Kota Sabang sendiri merupakan kawasan pelabuhan yang menjadi pintu gerbang ekspor import barang, termasuk komoditi yang ada di Aceh, khususnya dari daratan Tinggi Gayo.
“Sehingga, kedua daerah ini menimbulkan multi efek yang sangat optimal. Selain membutuhkan alat transportasi udara untuk memasarkan hasil bumi, seperti kopi berkualitas yang ada disini, sedangkan Sabang sebagai daerah penghasil ikan yang melimpah,” katanya.
Danlanud berharap kedepannya; Bandar Udara Rembele nantinya ingin menambah panjang Runway, agar dapat mendaratkan pesawat berbadan besar.
Penambahan tersebut dilakukan untuk penerbangan Kargo dari dan ke Bandara Maimun Saleh Sabang, yang akan dibuka kembali maskapai penerbangannya.
“Alhamdulilah nanti kedepannya apabila Bandar Udara Maimun Saleh sudah mulai aktif kita bisa rencaakan untuk penerbangan Kargo seperti Bandara Rembele, karena kita ketahui bersama Sabang sangat kaya dengan hasil lautnya,” Pungkasnya. (*)










