“Dengan kualitas jalan yang baik, tentu saja akan berpengaruh pada semua sektor, terutama pengguna transportasi dan pedagang keliling yang menjajakan dagangannya.”
[Ismail, SE.I. Wakil Bupati Aceh Tamiang]
- Dari Peureulak, Langsa hingga Perbatasan Sumatera Utara, perbaikan jalan nasional membawa rasa aman bagi pengguna sekaligus membuka kembali arus perdagangan. Di balik aspal baru, terdapat APBN dan pekerjaan konstruksi yang tetap membutuhkan pengawasan publik.
Aspal hitam membentang di sepanjang ruas jalan nasional Peureulak–Langsa–Kuala Simpang hingga Perbatasan Sumatera Utara. Kendaraan kembali bergerak lebih lancar.
Lubang yang sebelumnya membuat pengendara harus mengurangi kecepatan dan bermanuver mulai menghilang.
Bagi masyarakat, perubahan itu terasa sederhana, tetapi berarti.
Perjalanan menjadi lebih nyaman. Risiko kendaraan menghantam lubang berkurang. Pedagang keliling lebih leluasa membawa dagangan. Kendaraan angkutan barang dapat bergerak lebih lancar.
Namun, jalan nasional bukan sekadar hamparan aspal. Di baliknya terdapat perencanaan, anggaran negara, pekerjaan konstruksi, pengawasan mutu, serta tanggung jawab untuk memastikan pembangunan benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat.
KETIKA LUBANG TAK LAGI MENJADI KEKHAWATIRAN
FARIDA HANUM (50), warga Karang Baru, merasakan perubahan tersebut. Menurutnya, kondisi jalan yang lebih baik membuat perjalanan sehari-hari menjadi lebih nyaman.
Sebelumnya, lubang di sejumlah titik membuat pengendara harus lebih berhati-hati, terutama ketika berpapasan dengan kendaraan lain atau melintas pada malam hari.
Kini, kondisi itu mulai berubah.
“Yang paling penting bagi kami, jalan yang bagus membuat perjalanan lebih tenang. Kalau sebelumnya ada lubang, kita harus menghindar. Sekarang sudah lebih nyaman,” ujar Farida.
Ia berharap perbaikan jalan tidak berhenti pada pengaspalan. Pemeliharaan juga dinilai penting agar kondisi jalan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Harapan serupa disampaikan Ibrahim (30), warga Kampung Alur Baung.
Baginya, jalan yang mulus bukan hanya membuat kendaraan lebih nyaman, tetapi juga mengurangi kekhawatiran pengguna jalan terhadap kerusakan yang dapat memicu kecelakaan.
“Kalau jalan bagus, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan lubang. Kendaraan juga lebih nyaman dibawa, apalagi saat malam atau hujan,” katanya.
JALAN BAGI PEDAGANG ADALAH JALAN PENGHIDUPAN
BAGI Destian (45), warga Kota Kuala Simpang, perbaikan jalan memiliki arti lain. Ia melihat kondisi jalan dari sisi aktivitas ekonomi masyarakat.
Pedagang keliling, misalnya, membutuhkan jalan yang baik untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Semakin lancar perjalanan, semakin luas pula wilayah yang dapat dijangkau.
“Kalau jalan mulus, pedagang yang berkeliling lebih mudah membawa dagangan. Waktu perjalanan lebih singkat dan kendaraan juga tidak cepat rusak,” ujar Destian.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang.
Petani dapat membawa hasil produksi. Kendaraan logistik lebih mudah mengangkut barang. Masyarakat dapat bepergian dengan waktu tempuh yang lebih efisien.
Dari satu aktivitas tersebut muncul efek berantai.
Jalan lebih baik, lalu lintas lebih lancar. Lalu lintas lancar, distribusi lebih cepat. Distribusi lebih cepat, aktivitas ekonomi bergerak.
DARI PEUREULAK KE PERBATASAN
RUAS Peureulak–Langsa–Kuala Simpang–Perbatasan Sumatera Utara memiliki posisi penting dalam konektivitas wilayah timur Aceh.
Jalur tersebut menjadi bagian dari pergerakan masyarakat dan distribusi barang antardaerah. Kendaraan dari luar Aceh dapat masuk lebih lancar, sementara komoditas dari Aceh juga memiliki jalur transportasi menuju wilayah Sumatera Utara dan daerah lainnya.
Karena itu, perbaikan jalan nasional tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan secara langsung.
Efeknya dapat menjalar ke sektor perdagangan, transportasi, jasa, pertanian, hingga usaha mikro dan kecil.
Ketika waktu tempuh lebih efisien, biaya operasional kendaraan juga berpotensi lebih terkendali.
Bagi masyarakat, manfaat pembangunan jalan akhirnya kembali pada satu hal: kemudahan bergerak dan rasa aman dalam perjalanan.
DI BALIK ASPAL ADA UANG NEGARA
PERBAIKAN ruas jalan nasional tersebut juga berkaitan dengan penggunaan anggaran pemerintah pusat.
Dalam penelusuran dokumen pemaketan yang dilakukan Komunitas Jurnalis Lingkungan (KJL), salah satu paket penanganan permanen ruas Peureulak–Batas Kota Langsa/Aceh Timur–Kota Langsa tercatat sepanjang 12,33 kilometer dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp129,45 miliar melalui skema tahun jamak 2026–2027.
Alokasi yang tercatat sekitar Rp98,91 miliar untuk 2026 dan Rp30,55 miliar untuk 2027.
Karena ruas tersebut merupakan jalan nasional, penanganannya berada dalam kewenangan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.
Dalam penelusuran yang sama, PT Waskita Karya (Persero) Tbk teridentifikasi berkaitan dengan pekerjaan penanganan ruas Peureulak–Batas Kota Langsa.
Namun, angka Rp129,45 miliar harus dibaca secara hati-hati.










