“Saya Tidak Menyerah”

oleh -85 Dilihat

“Saya tidak pernah menyerah. Yang saya pikirkan adalah bagaimana masyarakat bisa segera pulih, rumah dibangun kembali, ekonomi bergerak kembali, dan kehidupan warga kembali normal.”

[Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H. Bupati Aceh Tamiang].

  • Di Balik Bantuan Hampir Rp1 Triliun dan Perjuangan Memulihkan Aceh Tamiang
  • Armia Pahmi Bicara Tentang Bencana, Harapan, dan Jalan Panjang Rehabilitasi Pascabencana

SIANG ITU, suasana di Kantor Bupati Aceh Tamiang tidak seramai biasanya. Namun di balik tumpukan berkas, peta wilayah terdampak, dan laporan rehabilitasi yang memenuhi meja kerja, satu agenda besar masih terus berjalan [memulihkan Aceh Tamiang pascabencana ekologis yang melanda daerah itu pada penghujung 2025].

Bagi ribuan warga yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman akibat bencana, waktu berjalan lambat.

Mereka menunggu bantuan. Menunggu rumah dibangun kembali. Menunggu kehidupan kembali normal.

Di tengah situasi itulah, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H., memilih berbicara terbuka.

Bukan sekadar menjelaskan angka-angka bantuan yang kini mendekati Rp1 triliun, melainkan menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat tentang proses pemulihan yang sedang berlangsung.

“Saya tidak menyerah,” ucapnya pelan namun tegas.

Kalimat sederhana itu menjadi benang merah dari seluruh perjalanan rehabilitasi yang kini sedang dijalani Aceh Tamiang.

BENCANA YANG MENGUBAH SEGALANYA

BENCANA yang menerjang Aceh Tamiang enam bulan lalu bukan peristiwa biasa.

Air bah yang datang membawa lumpur, material kayu, dan sedimentasi menghantam permukiman warga di berbagai wilayah.

Sebanyak 12 kecamatan dan 216 kampung terdampak. Ribuan rumah mengalami kerusakan. Infrastruktur lumpuh. Aktivitas ekonomi terhenti.

Bagi sebagian warga, bencana itu tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga menghancurkan harapan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Pemerintah daerah kemudian dihadapkan pada tugas besar yang tidak sederhana: memastikan masyarakat dapat bangkit kembali.

“Dampaknya sangat besar. Hampir seluruh sektor terdampak. Karena itu pemulihan tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat,” kata Armia.

Meski demikian, ia meyakini bahwa pemulihan harus terus berjalan, seberat apa pun tantangannya.

JALAN PANJANG MENUJU JAKARTA

BANYAK masyarakat melihat Armia beberapa kali bolak-balik ke Jakarta sejak bencana terjadi.

Sebagian memahami bahwa itu bagian dari upaya pemerintah daerah. Sebagian lainnya mempertanyakan hasil yang diperoleh.

Armia memilih menjawabnya secara lugas.

Menurutnya, perjalanan ke ibu kota bukanlah agenda seremonial ataupun kunjungan rutin tanpa tujuan.

Setiap keberangkatan dilakukan untuk satu kepentingan: memperjuangkan bantuan bagi masyarakat Aceh Tamiang.

Di berbagai kementerian dan lembaga negara, pemerintah daerah membawa data kerusakan, kebutuhan masyarakat, hingga proposal rehabilitasi dan rekonstruksi.

Proses itu berlangsung berulang kali.

Tidak ada jalan pintas.

“Kalau saya ke Jakarta, itu bukan jalan-jalan. Saya datang untuk memperjuangkan hak masyarakat Aceh Tamiang,” ujarnya.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil.

Pemerintah pusat akhirnya mengalokasikan bantuan dengan nilai mencapai Rp917.745.100.000 atau mendekati Rp1 triliun.

Nilai itu menjadi salah satu alokasi bantuan pascabencana terbesar yang pernah diterima Aceh Tamiang.

HAMPIR RP1 TRILIUN UNTUK MEMBANGUN HARAPAN

ANGKA Rp917 miliar lebih mungkin terlihat sebagai statistik dalam dokumen negara.

Namun bagi masyarakat terdampak, angka tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar.

Di dalamnya terdapat bantuan hidup bagi masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan. Ada bantuan pemulihan ekonomi untuk usaha yang sempat terhenti.

Ada bantuan penggantian perabot rumah tangga. Ada pula bantuan stimulan perbaikan rumah yang rusak akibat bencana.

Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah penerima bantuan hidup dari tahap pertama hingga tahap keempat mencapai 147.157 jiwa.

Khusus tahap ketiga dan keempat, sebanyak 99.338 jiwa dijadwalkan menerima bantuan dalam waktu dekat.

Sementara itu, bantuan pemulihan ekonomi dan penggantian perabot rumah tangga telah dialokasikan kepada puluhan ribu keluarga terdampak.

Untuk sektor perumahan, pemerintah mengalokasikan bantuan sebesar Rp292,62 miliar guna membantu masyarakat memperbaiki rumah yang mengalami kerusakan.

Bagi sebagian keluarga, bantuan tersebut menjadi titik awal untuk kembali menata kehidupan.

DATA, KEJUJURAN, DAN TANGGUNG JAWAB