Kehadiran para jamaah Umrah yang datang dari Langsa ini menyuarakan satu keyakinan—kepercayaan kepada Maimul Mahdi dan Nurzahri yang mereka anggap sebagai pasangan yang dekat dengan masyarakat dan memahami kebutuhan rakyat.
Mereka merasa bahwa pasangan nomor urut 03 ini membawa harapan segar dengan visi yang jelas dan nyata untuk memajukan Kota Langsa.
Tidak hanya itu, mereka juga melihat adanya kesungguhan hati dari pasangan ini untuk mendengarkan aspirasi masyarakat.
Sementara itu, Nurul, seorang pemuda Langsa yang turut mengamini doa di Tanah Suci, merasa bahwa Maimul-Nurzahri adalah simbol pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Kita butuh pemimpin yang berani membawa perubahan. Di era yang semakin maju ini, kita butuh pemimpin yang bisa membuat kita berdiri di atas kaki sendiri, bukan terus-terusan bergantung pada bantuan. MANDIRI adalah harapan baru bagi Langsa, dan doa kami semua di sini adalah semoga Allah mengabulkannya.”
Harapan-harapan ini menjadi tanda bahwa Maimul Mahdi dan Nurzahri tak hanya mengusung program pembangunan fisik, tapi juga membangun mentalitas mandiri dalam setiap warga Langsa.
Di hadapan Ka’bah, mereka memohonkan perlindungan dan kekuatan bagi pasangan ini agar mampu mengemban amanah dengan keikhlasan dan keberanian.
Doa yang diucapkan di Tanah Suci memang memiliki kekuatan yang tak terbayangkan. Setiap langkah mereka di sana seolah menjadi bagian dari jalan panjang menuju perubahan di Kota Langsa.
Dari Tanah Suci Mekah, keyakinan ini semakin menguat: Langsa akan memiliki pemimpin yang berpihak kepada rakyat, yang memprioritaskan kesejahteraan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Dalam suasana yang penuh khusyuk dan haru, para jamaah ini percaya bahwa doa mereka yang tulus akan membuahkan hasil.
Sebab bagi mereka, Langsa MANDIRI bukan sekadar slogan, tetapi adalah cita-cita besar yang mereka titipkan di bawah naungan Ka’bah, dan dalam harapan yang dipanjatkan dengan air mata ketulusan.












