oleh : Letkol Laut (Kh) Husni, S. Ag
Aku tak punya cita-cita untuk menjadi prajurit. Aku menyadari akan kekurangan postur tubuh yang kurus. Aku pemain bola dan varisis pula. Bukan itu, sedari awal tak pernah terpikirkan untuk menjadi TNI walau aku yang lahir dan besar selama kurang lebih 26 tahun di lingkungan TNI, Asrama TNI AD Keraton Banda Aceh.
Aku tinggal di komplek tentara karena Ayahku PNS TNI AD. tinggal di komplek TNI maka julukan anak gerbong melekat kemana pun disebut.Memang benar, rumahnya macam gerbong kereta api, satu atap bisa 9 atau 10 KK dengan kecilnya rumah-rumah ukuran yang ada.
*Aku gagal*
Aku ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil, kini ASN (Aparatur Sipil Negara).Usai tamat SMA (Smantig) tahun 1990, Aku mencoba nasib dengan mendaftar STPDN angkatan ke II yang mana pendidikannya di Jatinanggor, Bandung.
Aku menyadari akan kelemahan diri materi eksakta kurang. Untuk test jasmani dan kesehatan masih bisa diikuti. Aku gagal dan beberapa teman dari Smantig ada yang lulus, seperti Bukhari yang sudah Kadis dinas di Pemko Lhokseumawe dan Saiful Ichwan saya kurang faham dimana sekarang dinasnya. Bahkan ada teman satu Asramaku, Anak Fisika 3, Muhammad Rizal, Boy panggilan kecilnya, lulus namun tak diambilnya. Beliau lulus di Fakultas Kedokteran unsyiah (USK). Aku lupa kursi kosong ini siapa yang ambil. Yang pasti aku gagal dan tak jadi alumni STPDN.
Setelah gagal aku menganggur. Sekitar setahun dan tahun 1991 Aku mendaftar di IAIN AR-RANIRY (kini UIN).Aku tak pernah daftar di PT, baik negeri maupun swasta. Aku memilih Fakultas Dakwah dan jurusan DPP (Dakwah Penerangan dan Penyiaran Agama Islam).
“Kenapa masuk IAIN, ntar susah cari kerjanya”, celutuk temanku. “Aku ingin mencari ilmu agama. Aku sadari bekal sekolah umum, sangat kurang pelajaran agama. Masalah kerja pasrah pada takdir yang Allah berikan, ” jelasku padanya.
Oh iya, Aku ambil jurusan Dakwah karena aku suka ikut lomba Pidato. Memang sih sering kalah. Lawannya tangguh-tangguh seperti Tgk. Irawan Abdullah, Tgk. Dr. Muhammad Yasir, MA, Tgk. Dr. Muhammad Haikal, Tgk. Fairuz M. Nur Ibrahim dll orator hebat. Aku modal nekad dengan bekal pernah belajar di Iskada dalam pembinaan Alm. Tgk. Drs.H. Abdurrachman Kaoy.
Memang sih pernah sekali juara harapan I lomba Pidato dalam rangka Dies Natalis UIN Ar – Raniry.
Waktu pun berjalan. Dengan segala suka dan duka kuliah aku jalani dan lewati. Aku tak masuk Menwa. Aku masih tak tertarik dengan berbau militer.Aku menyelesaikan kuliah dalam kurun waktu 10 Semester. Aku wisuda sekitar tanggal 26 Agustus 1996.
Usai kuliah aku mencoba mengikuti jejak senior atas nama Muslim Yacob. Beliau kuliah S2 di Universitas Islam Antar Bangsa di Malaysia. Berbekal administrasi nilai yang memenuhi syarat beliau ikut. Lulus dan walau bahasa Inggrisnya agak belum sempurna nanti akan belajar lagi. Beasiswa infonya.
Nasib tak berpihak padaku, zaman aku nak daftar syaratnya salah satu nilai Toefl Bahasa Inggris minimal 550.Ampun dekh.Bahasa Aceh saja ngak sempurna bisa apalagi bahasa David Beckham. Kalau administrasi oke punya, IPK 3,40.
Untuk kedua kali aku gagal untuk meraih mimpi menjadi ASN. Ya, STPDN dan kuliah di luar negeri(calon dosen masa depan jika lulus). Pilihan lainnya ya kedepan coba test di Lingkungan Departemen Agama.
Aku lulus
Agustus sudah di penghujung bulan. Wisuda baru saja usai. Peruntungan nasib belum jelas kompas nya. Setelah gagal nak ke Malaysia belum ada angin surga yang membuka pintu.
Tiba-tiba aku berjumpa dengan Bang Iskandar. Satu lichting kuliah dan wisuda. Beliau jurusan DBP, Binpen. Beliau kecil namun kekar tubuhnya. Kalau hitam ya sama seperti Aku. Beliau kader Menwa yang pernah sesaat di gembleng TNI AD, Rindam IM. Beliau mengajakku masuk SEPA PK (Sekolah Perwira Prajurit Karier).
Aku masih awam tentang SEPA PK. Aku tertarik mencoba. Mencoba tidak ada salahnya. Kalau berhasil alhamdulillah dan jika gagal memang sudah sepantasnya. Hehe.
Aku daftar di Korem 012/TU.Tepatnya di Ajendam. Tidak terlalu banyak yang daftar,sekitar 70-an jika tak salah. Aku lupa karena sudah terlalu lama. Aku melihat saingannya keren dan beken. Anak-anak Menwa beberapa orang yang ikut.Aku lihat postur berat hanya 49 kg dan TB 163 cm. Paling kecil dari sekian yang test.
Aku mencoba makan pisang dan minum air putih sebanyak-banyaknya. Ikh, sebenarnya ini rahasia perusahaan diri. Tapi ngak apalah, bagian dari usaha menuju tangga kesuksesan.
Tidak banyak yang tahu aku ikut test ini. Teman-temanku di kampus dan di tim sepakbola juga tak tahu. Kalau di tempat tinggalku pastilah tahu, tapi aku heran kenapa banyak ngak yakin aku lulus. Wajar saja, aku kurus dan varises dan juga ngak ada pendamping. Pada saat test Bapakku sudah meninggal dunia, 4 Agustus 1995.Aku yakin beliau tak faham suatu saat aku coba test TNI. Beliau pernah berpesan, “Nak ngak usah menjadi PNS ABRI, aturannya sangat ketat”.
Aku mulai masa mengadu nasib. Pilihanku bulat, TNI AL. padahal aku tak tahu sama sekali. Tak punya gambaran. Proses test di Korem 012/TU kulalui dengan lancar. Walau berat badanku tak nambah. Kondisi lainnya oke punya.Teman-teman berguguran. Akhirnya 25 orang kami lulus dan dibawa ke Kodam I/BB untuk menjalani test tingkat Sumbangut(Aceh,Sumut,Padang dan Riau)
Nah, test yang paling mendongkolkan di Medan tatkala test kesehatan. Siapa yang ngak dongkol melihat ambien sang dokter masukkan semacam alat cocor bebek ke dubur. Hancur dekh “perjaka” awak ni. Sakit kali bah. “Kalau kalah cukup sekali aku menderita test masuk tentara”,gumamku dalam hati. Pantesan anak-anak Medan ngomong mampus anak Aceh. Rupanya dubur awak kena hajar cocor bebek.
Selesai test semua kesehatan dan psikologi kami balik ke Banda Aceh. Setelah diumumkan kami hanya 20 orang yang lulus dari 25 orang yang dibawa. Tentunya termasuk Aku. Perjalanan test makin panjang dan kami diberangkatkan ke Akmil Magelang untuk mengikuti test tingkat Pusat.
Aku tinggalkan pusara ayahku. Senyuman doa ibunda tercinta dan saudara menjadi bekal semangat berangkat menuju keberhasilan. Sudah kepalang basah, harus semangat tinggi. Berangkat tampa sponsorship dan do’a serta kebaikan-kebaikan menjadi wasilah menuju kemenangan.Senjata utama lainnya adalah bacaan Ummul Qur’an dan Shalawat Nabi.
Hampir sebulan kami mengikuti werving di Akmil. Suasana masih asri dengan banyak pepohonan dan terdapat gunung Tidar. Airnya pun sangat dingin di pagi hari. Sekitar kurang lebih 1800 calon dari penjuru Indonesia mengadu nasib. Sabang hingga Merauke. Suasana di Akmil pagi, siang dan malam sangat ramai. Kantin yang dikelola oleh ibu-ibu tempatan KBA menjadi idola calon prajurit yang ingin menambah vitamin tenaga. STMJ (susu telur madu jamu) jadi rebutan.
Oh ya, satu kisah unik terjadi saat Aku ikuti test, salah seorang temanku, senior dikampus dan juga senior dalam test (test ke 2 hadir di Magelang) berjumpa denganku. Mungkin ia percaya diri atau over conviden untuk lolos tahun ini (1996). ” Hus, aku titip uang ya.Nanti berikan ke si Anu (pacarnya),” pintanya. Sejenak aku berpikir apa maksudnya. Aku pun tak kenal sang pacarnya. “Maaf bang, aku tak bisa. Aku lulus”,jawabku mantap. Permintaan beliau aku tolak mentah-mentah.
Waktu akhir test hampir tiba. Tanggal 3 Desember 1996, pra pantukhir. 4 Desember 1996, pantukhir. Pengumuman tanggal 5 Desember 1996.Usai test pantukhir aku buat surat ke Mamak di Aceh,”Mak, aku lulus dan tidak pulang”.Padahal belum pengumuman.
Alhamdulillah aku beserta 11 Anak Aceh lulus, dan seniorku yang mau titipkan uangnya gagal untuk kedua kali. Infonya test ketiga baru lulus. Senior di kampus namun jadi junior di tentara.
Kurang lebih selama 7 bulan Aku mengikuti pendidikan dengan segala suka dan duka. Hari Jumat tgl 4 Juli 1997 digelar upacara Prasetya Perwira (Praspa) Sekolah Pertama Perwira Prajurit Karier (Sema PA PK) ABRI Thn 1997, sejak itu 1126 pria & 135 wanita resmi menjd Perwira berpangkat Letda.
Seiring waktu sudah 24 thn pengabdianku menjadi prajurit Samudera. Para teman ada yang sudah mendahului ke alam baka.Ada yang risent atau keluar dari dinas dan lain sebagainya.
Sudah banyak teman yang berpangkat Kolonel dan Aku sabar menanti semoga tahun depan dapat amanah jabatan Kolonel. Hanya pada Allah Aku meminta dan permohonan lindungan dalam sisa penugasanku sekitar 8 tahun lagi. Jadilah orang yang bermanfaat dimana saja ditempatkan dalam penugasan. Selamat ulang tahun ke 24 Alumni SEMAPA PK ABRI angkatan ke IV. Jaya dan sukses selalu dimana pun berada. Hal Jazaaul ihsaani illal ihsan (Setiap kebaikan maka balasannya adalah kebaikan).
Penulis : Letkol Laut (Kh) Husni, S. Ag
Kota Sabang, 4 Juli 2021











