PA sudah 15 tahun bercokol, sebaliknya implikasi dari damai Aceh belum sepenuhnya berjalan sesuai amanah UUPA dan MOU helsinki.
Salah satu masalah besar Aceh adalah kemiskinan, pendidikan, lapangan kerja, dan berbagai kewenangan khusus lainnya yang hanya mengulas dalam cerita dan cita-cita bukan dalam realita, karena elit yang tak mampu mengkonsolidasikan dengan satu kepentingan Kesejahteraan dan keadilan rakyat Aceh.
“Penentuan kandidat Mualem sudah diperhitungkan secara politik dan argumentasi lainnya oleh Partai Aceh, dan sudah barang pasti PA sudah siap melakukan berbagai monuver politik agar target tahun 2022 sukses,” Jelas Usman.
Perlu dipahami, jualan politik sekarang tidak hanya pada figur, kekuatan personal, namun juga harus mampu memberikan dan merealisasikan berbagai janji janji politik yang selama ini di dengungkan PA.
Isu kemiskinan, pendidikan, lapangan kerja dan beberapa kesepahaman MOU yang sudah di jabarkan dalam UUPA masih belum merealisasikan, maka untuk menumbuhkan kepercayaan simpatisan dan para mantan GAM, harus dibarengi bukti bukti konkrit.
Maka PA harus bekerja estra dalam setahun kedepan, memgembalikan kepercayaan pendukung, simpatisan dan mantan GAM. Berbagai janji politik dari masalah pengentasan kemiskinan, lapangan kerja, mutu pendidikan, polimik bendera, dan masalah lainnya.
“Bila masalah tersebut tak ada solusi dan masih hanya sebatas janji tanpa realisasi, sudah barang pasti PA bakal di tinggalkan pendukung simpatisan, dan Mualem kalah, berati Aceh kehilangan momentum yang sudah mulai sejak 2005 awal damai,” pungkasnya. (*)












