KUALASIMPANG (AD) – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang merupakan kabupaten berpenghasilan dari sektor Perikanan dan Kelautan, Perkebunan, Pertanian dan Migas. Itu merupakan produk unggulan di wilayah pintu gerbang memasuki provinsi Aceh.
Infrastruktur pertanian di kabupaten Aceh Tamiang masih sangat minim, irigasi, pompanisasi untuk mengairi persawahan masyarakat, sebagai upaya meningkatkan produksi gabah kering.
Banyak potensi yang belum digarap secara optimal, rata rata persawahan di Kabupaten Aceh Tamiang merupakan sawah tadah hujan, baru sebahagian kecil mengandalkan irigasi.
Berdampak kepada, minimnya produktifitas gabah kering, baik ekonomi masyarakat ataupun setoran kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Aceh Tamiang.
Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, Suprianto, ST kepada atjehdaily.id. melalui percakapan seluler, Minggu 26 Juli 2020. Dikatakan banyak program yang harus didorong menggunakan Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) serta Otsus.
Dan itu bisa dikolaborasi dari kedua anggaran tersebut untuk meningkatkan produksi sektor pertanian, khususnya padi di Aceh Tamiang.
Suprianto menginisiasi tiga kecamatan (Manyak Payed, Bendahara dan Banda Mulia) sebagai demplot persawahan pompanisasi yang digerakan dengan Dinamo solarcell (tenaga matahari) untuk mendongkrak hasil produksi gabah kering dan mutu padi.
Pihak DPRK akan mendorong agar dana APBN dan Otsus bisa diperuntukkan bagi program Pompanisasi di tiga kecamatan tersebut. Diharap mampu meningkatkan produksi padi untuk menyahuti program ‘Ketahanan Pangan Nasional’ dalam menghindari beras impor.











