“Ini kita yang inisiasi, untuk meningkatkan produksi gabah kering dan mutu padi. Anggarannya kita dorong dari APBN dan Otsus dan disesuaikan peruntukkannya didaerah,” kata Suprianto.
Masih Suprianto, program Pompanisasi Dinamo bertenaga Surya, yang digerakan dengan katup klep, menjadi sangat efektif dan status sebagai alat pengairan dengan semi moderen.
“Petani tidak susah lagi untuk memikirkan minyak, lalu mengengkol mesin, sebab tenaga nya dihasilkan melalui Tenaga Surya, sebagai penggerak Dinamonya,” jelasnya.
Menurut Suprianto, luas garapan yang ada di tiga kecamatan, lebih kurang 300 hektar. Kata dia, kegiatan tersebut merupakan Demplot pengalihan dari Sumur Bor ke Pompanisasi bertenaga Surya dengan menggunakan Dinamo sebagai alat penggerak Pompa.
Dikatakan, fokus program yang sedang berjalan itu, adalah didaerah sentra air, namun belum ada irigasi, “Ya kita fokus didaerah sentra air, untuk mengaplikasikan menjadi pompanisasi berbasis Dinamo bertenaga surya,” katanya.
Mengingat persawahan, yang pengairannya menggunakan sistim bor dirasa belum mencapai hasil optimal, belum menampakkan peningkatan hasil produksi gabah kering.
“Saya siap mendorong agar pemerintah menyiapkan alokasi biaya dari APBN atau Otsus, agar pertanian di Kabupaten Aceh Tamiang, maju dan berkembang sesuai tuntutan zaman dalam era globalisasi,” jelasnya.
Sebagai ketua DPRK Aceh Tamiang, Suprianto merasa bertanggungjawab untuk meningkatkan hasil produksi padi, dalam upaya menjadikan nilai tambah ekonomi dimasyarakat dan peningkatan PAD di kabupaten ujung timur Aceh tersebut. (Syawaluddin).











