FPMPA Minta Polisi Amankan Uang Tiket Penonton Persiraja Versus PSMS

oleh -212 Dilihat

Banda Aceh (AD)- Tragedi listrik mati menjelang kick off pada laga perdana Persiraja versus PSMS menjadi catatan kelam dalam dunia persepakbolaan Aceh.

Masyarakat Aceh yang telah lama menanti tim kesayangannya berlaga pada liga 2 harus menelan pil pahit, karena hanya berhasil menonton preseden mati lampu di Stadion H Dimurtala, Senin malam, 5 September 2022.

Ribuan masyarakat pencinta sepakbola telah rela mengeluarkan uang di tengah ekonomi yang sulit untuk membeli tiket hanya demi menonton tim kebanggaannya Persiraja bertanding di stadion yang selama ini dikenal sebagai andalan tim yang dulu berjuluk lantak laju itu.

“Kita minta pihak kepolisian mengamankan uang tiket penonton yang telah diberikan, karena pertandingan telah sah dihentikan,” pinta Ketua Forum Paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Aceh (FPMPA) Muhammad Jasdi yang merupakan salah satu pencinta tim sepakbola kebanggaan tanah rencong itu kepada media ini, Selasa 6 September 2022.

Pihak kepolisian, kata Jhon Jasdi, juga tak bisa menyalahkan massa yang tengah dirundung kecewa, namun harus menjadi pihak yang adil dalam menjaga kepentingan publik pencinta sepak bola di Aceh.

Sungguh miris, ketika kita disibukkan dengan sensasi permainan sepakbola berbasis syari’ah sebagai bentuk kearifan lokal dan syiar, namun justru fakta yang memilukan terjadi, dimana kesiapan teknis lainnya malah terabaikan oleh pihak pelaksana yang telah sekian lama diberi waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk laga persiraja versus PSMS tersebut.

Kejadian ini, kata Jasdi, merupakan preseden memilukan sekaligus memalukan bagi masyarakat Aceh. Sementara, mengenai adanya tragedi lainnya seperti pembakaran jaring gawang dan fasilitas yang disebabkan oleh amukan massa, itu merupakan akibat dari keteledoran panitia yang telah merugikan masyarakat pencinta sepakbola.

“Seharusnya sepakbola dapat mengangkat marwah daerah, ini justru malah sebaliknya memalukan daerah hanya dikarenakan ketidaksiapan panitia,” ungkap pria yang akrab disapa Jhon Jasdi ini.

Jika kita lihat, secara nominal uang yang dikeluarkan oleh setiap penonton itu hanya berkisar paling rendah Rp50.000,- dan paling tinggi Rp200.000,-. Jumlah per-orang yang mengeluarkan uang untuk membeli tiket tersebut bagi orang kaya memang relatif sangat murah. Tapi bagi masyarakat biasa, ini adalah harga yang mesti dikeluarkan untuk menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga.

“Kita minta pihak kepolisian mengamankan uang tiket penonton. Selain itu, panitia juga harus melaporkan secara transparan kepada publik, ini penting,” tegas Jhon Jasdi.

Selain itu, pihaknya juga mengingatkan panitia agar ke depannya lebih siap dalam laga-laga berikutnya agar preseden buruk seperti yang telah terjadi ini tidak terulang kembali. Manajemen dan panitia harus benar-benar siap, bukan hanya bicara sensasi penggunaan ‘Lejing’ dalam permainan bola, bahkan hal-hal teknis juga harus dipersiapkan dengan matang.

“Jika tidak, maka lagi-lagi masyarakat Aceh khususnya pencinta sepakbola tanah rencong akan dirugikan. Dimana letak martabat laskar tanah rencong jika diawal laga saja sudah demikian rupa,” ujarnya.

“Kami  minta manajemen dan panitia harus mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat Aceh. ‘Bek gara-gara panitia hana siap, lampu matee, ban saboh Aceh malee’. (Jangan gara-gara panitia tidak siap, lampu mati, seluruh Aceh malu),” tutup Jhon Jasdi. (*)