Wabup Pimpin Gotong Royong di Halaman Belakang Kantor

oleh -958 Dilihat
oleh

Tapaktuan (AD) – Di sudut tak terjamah halaman belakang Kantor Bupati Aceh Selatan, semak belukar tumbuh tak beraturan. Daun-daun merambat pada dinding semen yang lembab, menelan tangga curam yang membisu bertahun-tahun. Tak ada jejak kaki yang sudi menapakinya—terlalu curam, terlalu berbahaya. Bahkan cahaya pagi pun enggan menembusnya.

Tapi pagi itu berbeda.

Seorang lelaki berkemeja safari, Wabup H. Baital Mukadis, berdiri di tengah kabut tipis dan embun yang belum mengering. Di tangannya, sebuah cangkul terayun. Di wajahnya, bukan sekadar peluh, tapi tekad. Ia tak sedang memantau, tak memberi aba-aba dari jauh. Ia menjadi bagian dari kerja yang diam-diam menyentuh jantung birokrasi—yang selama ini nyaris kehilangan denyutnya.

“Tempat ini terlalu lama dilupakan. Kita harus mulai dari halaman sendiri, sebelum bicara besar tentang pelayanan publik,” ucapnya lirih, seolah berbicara kepada dirinya sendiri, tapi cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya.

Gotong royong hari itu bukanlah upacara. Tak ada tenda, tak ada kamera live, tak ada spanduk besar memajang nama-nama pejabat. Hanya ada bunyi sabit membelah rumput, derit kayu rapuh dari tangga tua yang dibersihkan, dan bisik dedaunan yang seolah lega karena disentuh kembali.

Dinding pembatas yang diselimuti lumut kini tampak sedikit lebih terang. Jalur menurun yang dahulu menakutkan, mulai tampak sebagai jalan penghubung yang layak dilewati. Para staf—yang sehari-hari lebih sering duduk di meja kerja—hari itu berkotor tangan, mencabut akar liar, menyusun pot bunga, menyapu dedaunan yang gugur sebelum waktunya.

Dari sudut teduh, seorang petugas keamanan memperhatikan. Ia enggan menyebutkan namanya, mungkin karena takut, atau mungkin karena sudah terlalu lama menelan kecewa. Ia menunjuk atap kantor yang bolong, seng yang terbang entah ke mana, hanya menyisakan papan lapuk menanti runtuh.