Kolaborasi Satgas PRR, TNI, dan Petani Aceh Hijaukan Kembali Sawah-Sawah

oleh -306 Dilihat

Aceh Tamiang (AD)- Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah timur Aceh pada akhir 2025 meninggalkan luka mendalam bagi ribuan keluarga petani.

Banjir yang merendam kawasan Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang tidak hanya menghanyutkan hasil panen, tetapi juga mengubur harapan masyarakat di bawah timbunan lumpur yang menutupi sawah dan lahan produktif.

 

Namun enam bulan berselang, pemandangan yang tersaji kini sangat berbeda. Hamparan sawah yang sempat berubah menjadi lautan lumpur perlahan kembali menghijau.

Aktivitas pertanian kembali bergerak, mesin ekonomi desa berputar, dan optimisme masyarakat tumbuh seiring hadirnya program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dijalankan Satgas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (PRR) Aceh.

BACA..  Polisi Berhasil Ungkap Kasus Curas di Toko Emas Tapaktuan

Keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, TNI, kelompok tani, dan berbagai pemangku kepentingan yang bekerja tanpa henti untuk memastikan masyarakat terdampak bencana dapat kembali bangkit.

Memulihkan Lahan, Menghidupkan Ekonomi

Di Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah, ribuan hektare sawah tertimbun lumpur akibat banjir besar yang terjadi pada November 2025.

Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran akan terganggunya produksi pangan sekaligus menurunnya pendapatan masyarakat pedesaan.

Melalui skema rehabilitasi yang dirancang Satgas PRR Aceh, lahan-lahan terdampak dibagi berdasarkan tingkat kerusakan agar proses pemulihan berlangsung lebih efektif.

BACA..  Polisi Berhasil Ungkap Kasus Curas di Toko Emas Tapaktuan

Untuk kategori lahan rusak sedang, rehabilitasi dilakukan bersama jajaran TNI melalui Kodim 0117/Aceh Tamiang. Dari target 712 hektare, ratusan hektare lahan telah berhasil dibersihkan dari endapan lumpur dan sebagian bahkan sudah kembali ditanami padi.

Sementara, untuk kategori lahan rusak ringan, Satgas PRR Aceh mendorong keterlibatan langsung kelompok tani melalui program Optimalisasi Lahan (Oplah). Pendekatan ini tidak hanya mempercepat pemulihan, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk bangkit dengan kekuatan mereka sendiri.

 

Dampaknya mulai terlihat nyata. Di sejumlah desa di Kecamatan Bendahara, Manyak Payed, dan Karang Baru, aktivitas pertanian kembali berjalan normal. Para petani yang sebelumnya kehilangan sumber pendapatan kini kembali mengolah sawah dan mempersiapkan musim panen berikutnya.

BACA..  Polisi Berhasil Ungkap Kasus Curas di Toko Emas Tapaktuan

Efek Domino hingga Aceh Timur dan Langsa

Program pemulihan yang dilakukan Satgas PRR Aceh tidak hanya berdampak pada Aceh Tamiang. Di Aceh Timur dan Kota Langsa, berbagai intervensi pascabencana turut membantu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.

Perbaikan infrastruktur pertanian, pembersihan saluran air, rehabilitasi lahan, hingga dukungan sarana produksi pertanian membuat masyarakat dapat kembali beraktivitas secara produktif.