OPINI | Sugeng Waras
NEGARA dibentuk dari pemikiran rakyat, tujuannya ditentukan oleh rakyat, hasilnya untuk rakyat, (bukan gagasan dari investor, direncanakan oleh investor, hasilnya untuk investor)TNI.
Kelahiran TNI, diawali pembentukan Badan Keamanan /Keselamatan Rakyat ( BKR ), terdiri mantan Peta, Heiho, KNIL dan Laskar Rakyat
Kemudian menjadi Tentara Keamanan / Keselamatan Rakyat (TKR), dan berubah lagi menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan selanjutnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Dulu, ada seorang Jendral besar, berasal dari santri, bernama Sudirman, yang kemudian terkenal dengan Panglima Besar Jendral Soedirman / Bapak TNI
Saat TKR, ada beberapa nama terkenal diantaranya Komandan Divisi Pertama TKR bernama Kolonel KH Sam’un, pengasuh pesantren Banten
Komandan Divisi ketiga, KH Arwidji Karta Winata, Tasikmalaya, Komandan Resimen 17, KH Iskandar Idrus, Dan Rem 8 Let Kol KH Yunus Anis
Komandan Batalyon Malang Mayor KH Iskandar Sulaiman, sekarang Rais Suriyah NU Malang (dokumen arsip nasional Sekneg dan TNI)
Dulu, banyak para komandan berasal dari santri, muridnya /anak buahnya juga santri, kemudian mereka berjuang bersama sama, berkelompok kelompok, ditambah rakyat elemen lain
Saat pergerakan perjuangan kemerdekaan, kelompok yang terdiri dari Kiai dan para santri itu berjuang tidak dibayar, mereka mengeluarkan beaya sendiri dan disokong oleh rakyat lainya
Baru kemudian setelah tahun 1950, seiring tertibnya administrasi, barulah TNI memperoleh gaji, yang sangat sederhana.
Itulah cikal bakal lahirnya TNI, yang lahir dari rakyat, yang makin lama makin diperhatikan kesejahteraannya oleh negara
Polisi lahir, dari warisan Belanda, makanya masih banyak isi dan peraturan hukum peninggalan Belanda, yang kini terus diadakan penyesuaian
Untuk memperkokoh kekuatan/kemampuan negara, dipersatukanlah TNI dan POLRI menjadi ABRI
Namun karena dikhawatirkan POLRI tertular cara cara atau kekhasan militer, maka dipisahkan lagi menjadi TNI dan POLRI











