Guru Pemimpin Pembelajaran

oleh -334 Dilihat

Oleh: Aiyub, S.Pd

Kegiatan Lokakarya ke-5 Program Pendidikan Guru penggerak angkatan ke-3 Kabupaten Aceh Timur di laksanakan secara luring pada hari sabtu tanggal 26 Februari 2022 di Hotel The Royal hotel Idi Aceh Timur.

Kegiatan ini diikuti oleh 44 Calon Guru penggerak, 8 Pengajar Praktik yang dibagi kedalam 3 ruang kelas, terdiri dari ruang kelas A 15 CGP 3 PP, Ruang B 16 CGP 3 PP, dan Ruang C 11 CGP 2 PP dengan penerapan protokol kesehatan covid-19.

Tema lokakarya 5 yaitu Guru Pemimpin Pembelajaran. Kegiatan ini dibuka oleh sekretaris Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Aceh Timur Yaitu Bapak Muslim, S.Pd,.M.Pd. Adapun topik kegiatan pada lokakarya 5 adalah tentang refleksi kompetensi calon guru penggerak. Kegiatan lokakarya tersebut dalam aktivitas pembelajaran mengukur bagaimana evaluasi kompetensi calon guru penggerak di bulan kelima, sebagai acuan pengembangan diri.

Indikator keberhasilan dalam kegiatan lokakarya 5 Calon Guru Penggerak (CGP) dapat melakukan refleksi diri, dapat membuat rencana pengembangan diri berdasarkan kompetensi guru penggerak. Produk yang dihasilkan pada lokakarya 5 tersebut berupa: Evaluasi kompetensi guru penggerak, Hasil refleksi diri dan rencana pengembangan diri calon guru penggerak.

Tujuan kegiatan lokakarya kelima yaitu calon guru penggerak mampu mengidentifikasi kompetensi yang sudah berkembang, yang belum berkembang, dan mampu mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat pengembangan kompetensi diri calon guru penggerak. Serta calon guru penggerak mampu menyusun rencana pengembangan diri berdasarkan kompetensi guru penggerak.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ada 10 kompetensi guru penggerak yang harus dikuasai oleh guru-guru yang mengikuti program guru penggerak yaitu

1. Menunjukkan praktik pengembangan diri berdasarkan kesadaran dan kemauan pribadi.

2. Mengembangkan kompetensi warga sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi yang relevan dengan kepemimpinan sekolah untuk mengembangkan karier.

4. Menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi untuk berperilaku sesuai dengan kode etik.

5. Memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid.

6. Memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid.

7. Memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid.

8. Melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah.

BACA..  Jalan Mulus, Ekonomi Kembali Bergerak

9.Mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berorientasi pada murid.

10. Memimpin dan mengelola program sekolah yang berdampak pada murid.

Aktivitas lokakarya 5 kelas C sebanyak 13 CGP yang dipandu oleh Pengajar Praktik (PP)007 Aiyub, S.Pd. dan PP008 Heni Mahera Siregar, S.Pd. Mulai dari jam 08.00 wib sampai jam 17.00 Wib. Kegiatan ini diawali dengan sesi pembukaan selama 30 menit, dimulai dengan membaca doa menyapa CGP, menceritakan gambaran perasaan CGP penyampaian agenda kegiatan dan membuat kesepakatan kelas. Sesi kedua evaluasi kompetensi calon guru penggerak selama 30 menit. Sesi ketiga refleksi kompetensi selama 90 menit. Sesi keempat analisa faktor pendukung dan faktor penghambat selama 105 menit. Sesi kelima rencana pengembangan diri selama 70 menit dan sesi keenam penutup selama 35 menit. Disini CGP melakukan evaluasi lokakarya, refleksi akhir dan pengambilan foto dokumentasi kegiatan.

Refleksi diri berdasarkan hasil evaluasi kompetensi calon guru penggerak sebagai berikut :

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa ada beberapa kompetensi guru penggerak yang sudah berkembang dan belum berkembang. Kompetensi guru penggerak yang sudah berkembang seperti Menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi untuk berperilaku sesuai dengan kode etik nilai capaiannya dari 11 CGP yaitu 82,19 persen. Memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid 80 persen.

Kompetensi Guru Penggerak yang belum berkembang seperti melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah 48,68 persen. Mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berorientasi pada murid 55,68 persen. Berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi yang relevan dengan kepemimpinan sekolah untuk mengembangkan karier 56,82 persen dan memimpin dan mengelola program sekolah yang berdampak pada murid 59,09 persen.

Kompetensi guru penggerak yang sudah berkembang dan yang belum berkembang tidak terlepas dari dua faktor. Yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat kompetensi diri guru penggerak. Berdasarkan hasil diskusi para CGP saat lokakarya 5 kelas C pada hari sabtu tanggal 26 februari 2022. Faktor pendukung yang membuat kompetensi guru penggerak berkembang adalah potensi diri, sarana prasarana, kecakapan dalam berkomunikasi, Kesadaran diri sebagai pendidik, kepala sekolah, rekan sejawat tempat bekerja, lingkungan sekolah, dan kemauan melakukan perubahan. Hal-hal atau pihak yang dapat membantu mempermudah kompetensi guru berkembang adalah tersedia buku bacaan, bantuan teman sejawat, faktor biotic dan abiotik, kepala sekolah, teman sejawat, dan memiliki prasarana yang memadai. Hal yang bisa dilakukan oleh CGP untuk bisa meningkatkan faktor dukungan adalah kerja keras tanpa merasa lelah. Kerjasama yang baik dengan berbagai pihak. Melakukan perubahan, bergabung dengan komunitas praktisi secara aktif dan konsisten dengan perbuatan yang terus berbagi dengan guru yang lain.

BACA..  Jalan Mulus, Ekonomi Kembali Bergerak

Faktor penghambat pengembangan kompetensi diri guru penggerak berupa pemahaman yang minim atas kompetensi yang di capai. Kurangnya kesadaran akan kerjasama untuk mengubah situasi. Merasa puas pada zona yang telah ditempati. Tidak mau mengambil resiko. Sikap acuh atau cuek terhadap perubahan, kurang kompak dan adanya kepentingan-kepentingan para pemangku kebijakan yang telah tertanam sangat kuat. Serta tidak adanya kemauan dan minat rekan sejawat disekolah untuk membuat perubahan. Pihak yang bisa terlibat untuk meminimalisir faktor penghambat tersebut adalah Kepala Dinas, Kabid, Pengawas Sekolah, komite, kepala sekolah dan teman sejawat. Yang bisa dilakukan untuk meminimalisir faktor penghambat tersebut adalah berdiskusi dengan kepala dinas, kabid, pengawas komite dan kepala sekolah. meningkatkan kompetensi diri dengan terus belajar, mengikuti pelatihan-pelatihan dan diklat yang dapat meningkatkan kompetensi seorang guru. Menunjukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri dan berkoordinasi yang baik dengan semua unsur yang mendukung program tersebut.

Rencana pengembangan kompetensi calon guru penggerak selama tiga bulan kedepan. Terlihat pada rencana salah satu CGP yaitu bapak Asnawi dari SMPN 1 Sungai Raya. Kompetensi yang ingin dikembangkan adalah memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid. Untuk mencapai kompetensi tersebut CGP merencanakan membentuk komunitas praktisi, mengajak rekan sejawat untuk mengunakan metode/model pembelajaran pada saat proses pembelajaran dikelas. Mengajak siswa untuk gemar membaca dan mengulang pembelajaran d irumah. Berkoordinasi dan kolaborasi dengan rekan sejawat terkait kebutuhan siswa. Ukuran keberhasilan rencana pengembangan kompetensi tersebut adalah 70% sudah terlaksana sesuai perencanaan yang telah ditetapkan sesuai indikator. Cara untuk mengatasi faktor penghambat atau gangguan untuk mencapai kompetensi tersebut antara lain membuat pertemuan dengan rekan sejawat untuk berdiskusi terkait hal siswa gemar untuk belajar. Merancang strategi yang bagus dalam memecahkan masalah tentang siswa lebih termotivasi dalam belajar. Mengimbas kan ilmu baru dari CGP kepada rekan sejawat, siswa, kepala sekolah yang sudah diperoleh dari Pendidikan Calon Guru Penggerak (PCGP).

BACA..  Jalan Mulus, Ekonomi Kembali Bergerak

Devi Cahyana guru SDN Blang Seunong, Ia ingin mengembangkan kompetensi diri selama tiga bulan kedepan yaitu mengembangkan kompetensi warga sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Untuk mencapai rencana kompetensi tersebut CGP mendiskusikan kepada kepala sekolah untuk ditindak lanjuti kepada guru-guru. Menyusun jadwal kegiatan yang harus rutin dilaksanakan. Ukuran keberhasilan rencana pengembangan kompetensi tersebut adalah semua guru mampu membuat perangkat pembelajaran tanpa meminta atau menyuruh kepada orang lain dan memegang teguh 8 standar pendidikan nasional. Cara CGP untuk mengatasi faktor penghambat atau gangguan untuk mencapai kompetensi tersebut adalah mempertahankan dengan memberikan bukti-bukti atas capaian yang direncanakan. Memilih dan meminimalisir terhadap rekan sejawat yang kontra dengan harapan akan menyadari dengan program yang baik dan bisa mengikutinya.

Hasil evaluasi lokakarya 5 program PGP oleh calon guru penggerak angkatan 3 Kabupaten Aceh Timur kelas c adalah sebagai berikut: Konten lokakarya 97 persen yaitu konsisten dilakukan atau mereka merasa sanga puas. Pengajar praktik 98 persen yaitu konsisten dilakukan atau mereka sangat puas dan Fasilitas lingkungan lokakarya 81 persen mereka merasa puas. Secara keselurahan 92 persen merekan sanga puas dengan kegiatan lokakarya 5 di adakan di The Royal Hotel Idi Aceh Timur. Namun ada juga sebagian CGP yang berharap agar lokakarya dilaksanakan diluar daerah kabupaten Aceh Timur.

Berdasarkan data-data dan fakta saat lokakarya 5 dapat simpulkan bahwa lokakarya berjalan dengan baik dan lancer dengan tingkat kepuasan peserta 92%. Calon guru penggerak mampu menganalisa kompetensi diri yang sudah berkembang dan yang belum berkembang. CGP mampu menganalisa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mengembangkan kompetensi guru penggerak serta CGP mampu menyusun rencana pengembangan kompetensi calon guru penggerak selama tiga bulan kedepan.[]

Penulis : PP07 Aiyub,S.Pd