Bagi masyarakat yang selama ini mengalami kendala administrasi, bantuan tersebut memiliki nilai yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan fisik.
Cut Rosnah mengenang momen ketika bantuan perlengkapan ibadah dan pengeras suara tiba tepat menjelang bulan suci Ramadan.
Saat itu, warga di dua dusun yang memanfaatkan masjid yayasan untuk beribadah dapat langsung merasakan manfaatnya.
“Alhamdulillah, semuanya terwujud. Pada malam pertama Ramadan, kami dapat beribadah dengan fasilitas yang serba baru. Bagi kami, ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa,” ungkapnya.
TNI HADIR SAAT MASYARAKAT MEMBUTUHKAN
DI BALIK berdirinya kembali balai pengajian tersebut terdapat proses panjang yang melibatkan kerja sama antara TNI dan masyarakat.
Setelah menerima informasi mengenai kerusakan yang terjadi akibat banjir, Danrem 011/Lilawangsa segera menginstruksikan jajarannya untuk melakukan peninjauan sekaligus menyiapkan langkah-langkah penanganan.
Personel Kodim 0103/Aceh Utara kemudian diterjunkan ke lokasi untuk bergotong royong bersama warga mempercepat pembangunan fasilitas yang rusak.
Bagi Brigjen TNI Ali Imran, kehadiran TNI di tengah masyarakat tidak boleh hanya terbatas pada fungsi pertahanan negara, tetapi juga harus mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
“Balai pengajian ini merupakan sarana vital bagi anak-anak yatim untuk belajar agama dan mengaji. Kita tidak boleh membiarkan proses pendidikan mereka terhenti terlalu lama akibat kerusakan fasilitas. Karena itu, kami bersama-sama membangun kembali tempat ini agar lebih layak dan nyaman digunakan,” tegas Danrem.
Ia menambahkan bahwa semangat gotong royong merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia yang harus terus dipelihara, terutama ketika masyarakat menghadapi musibah.
EMPAT PULUH TAHUN MENGABDI UNTUK ANAK YATIM
DAYAH Miftahul Jannah bukanlah lembaga pendidikan baru.
Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Jannah telah mengabdikan diri selama 40 tahun dalam membina dan mendidik anak-anak yatim serta masyarakat sekitar.
Dalam perjalanannya, yayasan tersebut telah menjadi rumah bagi banyak generasi muda yang memperoleh pendidikan agama sekaligus pembinaan moral dan karakter.
Karena itu, ketika balai pengajian roboh akibat banjir, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan. Yang ikut terdampak adalah ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang pembentukan masa depan bagi para santri.
Kini, dengan berdirinya kembali balai tersebut, semangat yang sempat surut perlahan kembali menyala.
Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an kembali terdengar dari ruang yang sebelumnya porak-poranda diterjang banjir.
[Hj. Cut Rosnah. Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Jannah].
“Melalui kepedulian TNI dan seluruh pihak yang membantu, para santri kini kembali memiliki tempat yang layak untuk belajar, mengaji, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.”
MENATA MIMPI ANAK YATIM
BANJIR mungkin telah merobohkan dinding-dinding balai pengajian Dayah Miftahul Jannah.
Namun, musibah itu tidak mampu meruntuhkan semangat belajar para santri dan kepedulian masyarakat yang hadir membantu.
Di Desa Tambon Tunong, sebuah bangunan baru kini berdiri sebagai simbol bahwa harapan selalu dapat dibangun kembali.
Di dalamnya, ratusan anak yatim kembali menata mimpi, melanjutkan hafalan, dan menapaki jalan pendidikan yang sempat terhenti oleh bencana.
Lebih dari sekadar proyek pembangunan, kisah ini menjadi pengingat bahwa ketika negara, masyarakat, dan nilai gotong royong berjalan beriringan, maka setiap musibah dapat diubah menjadi kekuatan untuk bangkit bersama. [].











