Laptop dari Ibu Kota, Semangat Baru Untuk Guru Aceh Tamiang

oleh -50 Dilihat

Solidaritas Sesama Guru

PERWAKILAN PGRI DKI Jakarta, H. Ahmad Jazuli, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas antarsesama guru di Indonesia.

Menurutnya, PGRI DKI Jakarta memahami dampak yang ditimbulkan banjir terhadap aktivitas pendidikan, termasuk kerusakan berbagai perangkat kerja yang digunakan guru dalam menjalankan tugas sehari-hari.

“Kami memahami dampak banjir yang terjadi pada November lalu telah merusak banyak peralatan kerja guru. Semoga bantuan 40 unit laptop ini dapat menggantikan perangkat yang hilang atau rusak serta membantu kelancaran proses pembelajaran,” kata Ahmad Jazuli.

Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Aceh Tamiang, Nurdin, S.Pd., M.M., menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan PGRI DKI Jakarta.

Ia menilai bantuan tersebut sangat berarti bagi para guru yang kehilangan atau mengalami kerusakan peralatan kerja akibat banjir.

“Bantuan ini sangat meringankan beban para guru yang terdampak bencana. Dengan adanya laptop baru, mereka dapat kembali menyusun materi ajar, administrasi pembelajaran, dan berbagai kebutuhan pendidikan lainnya secara lebih baik,” ujarnya.

Menurut Nurdin, dukungan terhadap dunia pendidikan merupakan bagian penting dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, karena pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun kembali kehidupan masyarakat yang terdampak.

Pendidikan Harus Bangkit Bersama

PENYERAHAN bantuan tersebut turut dihadiri Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Tamiang, Dewan Pakar PGRI Aceh Tamiang, Ny. Linda Ismail, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang Sepriyanto, Ketua PGRI Aceh Tamiang Nurdin, Wakil Ketua PGRI Aceh H. Muhammad Shulfan, serta perwakilan PGRI DKI Jakarta, H. Tatang Nurjaman dan H. Ismu Yuwono.

Kehadiran berbagai unsur pendidikan dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.

Dibutuhkan kolaborasi, kepedulian, dan gotong royong dari berbagai pihak agar proses belajar mengajar kembali berjalan normal.

Perangkat yang Menjadi Jembatan

EMPAT puluh laptop mungkin bukan angka yang besar jika dibandingkan dengan luasnya dampak bencana yang pernah melanda Aceh Tamiang.

Namun, di tangan para guru, perangkat tersebut dapat menjadi jembatan untuk menghadirkan kembali semangat belajar, menyusun harapan baru, dan menata masa depan anak-anak daerah ini.

Ketika solidaritas hadir melampaui batas wilayah dan kepentingan, pendidikan menemukan kekuatannya untuk bangkit. Dan dari ruang-ruang kelas yang perlahan pulih itulah, masa depan Aceh Tamiang kembali ditulis. [].