“Neurofeedback dapat digunakan untuk terapi anak-anak disabilitas seperti autistik , Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Dyslexia, Obsessive – Compulsive Disorder (OCD), Depresi, Anxiety Disorder, emosi yang tidak stabil, penyimpangan perilaku, hingga kondisi lain seperti, kejang, cerebral palsy dan lainnya”, jelas Imam Maliki, Wakil Rektor I UMMAH, Senin (29/08/2022).
“Pembentukan laboratorium Neurofeedback, selain bermanfaat untuk anak-anak disabilitas, nantinya juga akan memberikan manfaat secara langsung pada pengelola pusat kajian Prodi Pendidikan Khusus UMMAH dalam menerapkan penelitian pada roadmap bidang disabilitas, bidang kesehatan mental dan bidang keperawatan jiwa” tambah Istiarsyah, Kepala Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat dan Publikasi (LP2MP), Senin (29/08/2022).
“Bagi peneliti khususnya, program ini juga bermanfaat sebagai sosialisasi dan publikasi dalam menjalin kerjasama dengan peneliti antar bangsa serta sekolah dan lembaga terapi,” tambah Istiarsyah, Senin (29/08/2022).
“Kita berharap kehadiran laboratorium Neurofeedback akan menjadi wadah yang bermanfaat bagi anak-anak disabilitas di Aceh khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Agar mereka dapat berkembang, mandiri dan dapat berbaur dalam kehidupan masyarakat”, tutup Kabid Kerja Sama Inovasi dan Promosi, Arrazi, BEd, MEd, Senin (29/08/2022).(Ril)











