Oleh : Usman Lamreung
Kabupaten Aceh Besar wilayahnya berbatasan dengan kota Banda Aceh, Pidie dan Aceh Jaya. Wilayahnya begitu luas dengan berbagai kekayaan alam yang sangat besar, perikanan dan kelautan, perkebunan, pertanian, parawisata, perternakan dan lainnya.
Untuk mengelola sumber daya alam tersebut, pasti dibutuhkan tenaga-tenaga handal, SDM yang mumpuni, dukungan anggaran yang memadai dan tak kalah penting adalah keseriusan pemangku kekuasaan Legislatif, eksekutif, para elit, politisi, ulama, pemuda, mahasiswa dan rakyat Aceh Besar.
Maka sudah seharusnya Aceh Besar dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada, difasilitasi pemerintah kabupaten baik legislatif, eksekutif dan elemen lainnya, seharusnya mampu keluar dari berbagai ketinggalan dan mengejar ketinggalan dengan daerah lain.
Tunggu dulu, harapan rakyat Aceh Besar tersebut, tidak berjalan mulus setelah mandat diberikan oleh rakyat kepada legislatif dan eksekutif. Salah satunya yang muncul ke publik adalah konflik Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar, beberapa waktu yang lalu, menyebabkan komunikasi dan koordinasi menuai masalah, dan berpengaruh pada kinerja bawahannya yaitu para birokrat dan PNS. Berbagai janji politik yang pernah di sampaikan menjadi macet alias tak berjalan semestinya, akibat retaknya kedua pilihan rakyat tersebut.
Akibat konflik kedua pemangku kekuasaan tersebut, berbagai kebijakan dan program macet alias lambat bergerak. Sudah hampir tiga tahun kepemimpinan pasangan Amar Makruf Nahi Mungkar ini berjalan, tapi masih banyak janji politik belum terealisasi, baik penguatan nilai-nilai syariat Islam, Reformasi dan penguatan SDM dan pengetasan kemiskinan belum sepenuhnya berjalan.
Nampaknya biarpun kepemimpinan pasangan putih sudah kembali konsolidasi dan islah, namun dis-komunikasi masih sarat terjadi, bisa jadi sampai akhir periode kepemimpinan mereka dis-komunikasi tetap terjadi. Malah bisa terjadi pada periode kedua, Mawardi Ali dan Waled Husaini, mereka keduanya bisa menjadi lawan politik saat pilkada 2022.
Berbicara pilkada tahun 2022 di Aceh Besar, akan sangat dinamis, karena lawannya sangat berat yaitu incambent Mawardi Ali dan Walid Husaini. Tentu keduanya diprediksi tidak lagi berpasangan, namun bakal bersaing dengan yang lain.
Maka periode pilkada 2022 di Aceh Besar harus muncul tokoh-tokoh muda, yang selama ini sudah berwara-wiri dikancah dunia politik praktis. Sangat yakin para tokoh-tokoh muda Aceh Besar punya potensi-potensi besar yang selama ini berkiprah atau belum muncul dipublik dan harus di munculkan sebagai persiapan pilkada 2022, berkompetisi, mewarnai dinamika politik di Aceh Besar. Kesempatan ini harus dimamfaatkan sebaik mungkin agar para tokoh muda Aceh Besar punya kesempatan dan merebut peluang-peluang yang ada termasuk merebut kekuasaan saat pilkada yang akan datang.
Tokoh muda selama ini sudah berkiprah dalam berbagai organisasi politik, pemuda, dan malah sudah berpengalaman di lembaga legislatif baik di tingkat DPRK dan DPRA. Diantara tokoh tokoh muda menurut hasil analisis kami yang selama ini mewarnai perpolitikan Aceh Besar adalah Muhammad Ansari Muhammad (Golkar) Juanda Djamal (PA) Tarmizi (PNA), Ucok Sibreh (Golkar) Yusran/Abu (PAN) dan masih banyak lagi.
Mereka harus diberikan kesempatan dan peluang, merealisasikan gagasan, ide, pikiran dalam pembangunan keberlanjutan Aceh Besar, dengan segenap dukungan warga Aceh Besar, maka perlu dimunculkan para tokoh muda agar re-generasi kepemimpinan dan keberlanjutan, sehingga lebih berwarna dalam pilkada tahun 2022 dengan ada kandidat para tokoh muda(**)











