Bireuen (AD) – Ingin kutulis secarik surat,kepada yang terhormat, Tuanku Raja di Negeri Serambi miskin yang pura-pura kaya, bumi tempat para pemimpin mengumpul harta, dengan slogan dan simbolisme serimonial semata.
Duhi kuhaturkan takzim, kepada para tuan-tuan pemimpin, kiranya membatin, di hati dan zahir..kuharap mewakili segenap mulut, dan gagunya bibir, si miskin, si fakir, si yatim dan kaum jelata.
Tuan-tuan, terimakasih kami panjatkan, kehadapan kalian berlututlah kami, di kaki harapan, dengan tubuh ringkih, pakaian dekil, dan mata yang se’h-so’h.
untuk segenggam harapan dan kebijakan, atas kepedulian para tuan selama Corona melanda, Nanggroe kita tentu tuan-tuan mengharapkan pula, sebagaimana kami harapkan.
Terimakasih, tuan-tuan. Semoga tuhan membalas semua kebaikan kalian, juga meredakan kecemasan kalian untuk kami rakyat, pada kondisi bumi yang sedang huru-hara ini.
Terimakasih tuan-tuan sudah memberikan para medis tunjang hari tua, membekali mereka dengan APD yang memadai, bahkan memberikan Sembako dan bekal untuk kami di desa, tuan-tuan sungguh teramat mulia.
Kami bangga, memiliki pemimpin yang baik hati, seperti tuan-tuan ini yang rela menyediakan Pendopo, Istana Wali, dan Rumah pribadi sebagai tempat karantina dan isolasi, bagi saudara-saudara kita yang sudah terinfeksi Corona.
Manusia mana di zaman sekarang yang sebaik dan semulia tuan-tuan? Kalau bukan tuan-tuan yang ada di tahta Nanggroe Serambi ini, yang menjunjung tinggi nilai kepedulian, dan kemanusian terhadap kami, dan menepikan fee-fee proyek, pengadaan, tender dan aspirasi.
Bumi sedang tidak baik-baik saja, tuan-tuan. Ia mendekap kita dengan wabahnya, yang bernama Corona, dan tuan-tuan kini mengurung kelaparan kami, dengan intruksi, imbauan, juga kebijakan. Tentu tuan-tuan tak ingin melihat kami mati, dan dimakamkan dikuburan masaal, persediaan tuan, tempoe hari, bukan?
Kepada tuan-tuan, ingin kami sampaikan sepatah rasa terimakasih, atas kepedulian tuan-tuan kepada kami, yang tentu ingin melihat kami baik-baik saja, tak mati di gunyah Corona, tentu itu prilaku yang sangat mulia, tuan-tuan seperti aulia.
Namun, tuan-tuan tahu, kami bukan pembawa wabah itu, kami bukan ejen bencana itu, kami bukan sekutu Corona, yang di imbau untuk tetap di rumah saja, tanpa ada bekal apa-apa. Sedangkan Transportasi sampai kini masih terbuka, laut, darat dan udara.
Lalu untuk apa tuan-tuan menyekap kami pelaut, petani, dan kuli untuk patuh dengan intruksi kalian, jika si kaya dan para pendatang masih berlalu-lalang, masuk ke rumah kita?
Hingga pula memberlakukan Jam malam bagi kami, tanpa memberi sepeser bekal. Anak istri kami mahu makan apa tuan?
Kepada tuan-tuan, duhi takzim kami haturkan, apakah Aceh ini tak lagi memiliki sandangan pangan, anggaran Otsus, DAK, DOKA, dan APBA? ataukah proyek infrastuktur, dan pengadaan lebih berharga dari nyawa kami jelata?
Tuan-tuan, dunia sedang tak baik-baik saja, sebelum Corona datang menjemput tuan-tuan di kerajaan,
barangkali kami akan mati duluan bersebab lapar. Bireuen, Maret 2020
Kinet BE. (Penulis Adam Zainal).











