Putra Binjai dan Napas Tanah Asal

oleh -1012 Dilihat

“Kondisi global menuntut bangsa ini lebih siap, lebih sigap, dan lebih mandiri dalam menjaga kedaulatan nasional.”

[Jenderal (Purn) Achmad Daniel Chardin]

DI SEBUAH ballroom berlampu kristal di Hotel Golden Boutique, Kemayoran, aroma kopi Arabika bercampur debur suara tepuk tangan.

Di hadapan puluhan kamera dan barisan kursi biru berbalut satin, seorang pria berseragam batik coklat gelap berdiri tegak. Tubuhnya tegap, sorot matanya teduh tapi mantap; masih memancarkan disiplin khas prajurit.

Dialah Jenderal (Purn) Achmad Daniel Chardin, putra Binjai, yang hari itu, Senin, 3 November 2025, resmi ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya Sumatera Utara.

Semburat senyum kecil mengembang di wajahnya ketika Ketua Umum Partai Berkarya, Mayjen (Purn) Muchdi Purwopranjono, menepuk bahunya.

Selamat bertugas, Jenderal. Sumatera Utara menunggu sayapmu,” ujar Muchdi Pr, mantan komandan elite Kopassus yang kini memimpin partai dengan lambang baru: Kepala Burung Elang.

Di balik upacara formal itu, terselip babak baru dalam perjalanan seorang prajurit yang kembali ke tanah asalnya [bukan untuk berperang, melainkan untuk membangun].

Daniel, mantan Pangdam I/Bukit Barisan, kini menjadi motor kebangkitan politik partai yang pernah nyaris redup, namun kini bertekad terbang kembali dengan energi baru.

Elang yang Kembali ke Langit.

LOGO BARU Partai Berkarya [Kepala Elang mengembang sayap ke timur] bukan sekadar simbol pergantian visual. Ia melambangkan renaissance, kebangkitan, dan arah pandang baru. Dari beringin yang berakar, kini mereka memilih elang yang menatap cakrawala.

“Partai ini sudah melewati masa penuh badai,” ujar Daniel saat ditemui selepas sidang pleno. “Sekarang saatnya kita kembali menatap jauh ke depan, dengan keyakinan dan kemandirian.”

Suaranya lembut, tapi tegas.

Ia bukan tipe politisi yang banyak retorika. Sebagai mantan komandan satuan elite, ia lebih terbiasa memberi perintah di lapangan daripada berbicara di podium. Namun di ruang politik, Daniel belajar seni baru; berbicara dengan nurani.

Bagi sebagian besar hadirin, momen itu bukan sekadar pelantikan struktural. Itu adalah sinyal kebangkitan. Partai Berkarya yang sempat terjebak dalam dualisme kepemimpinan dan konflik hukum, kini mencoba menata kembali arah.

Duet Muchdi Pr dan Prof. Irmanjaya Thaher di tingkat pusat menjadi fondasi “Dwi Tunggal” yang menggabungkan militansi dan modernisasi; dua napas yang kini disatukan Daniel dalam kiprahnya di Sumatera Utara.

Putra Binjai dan Napas Tanah Asal.

BINJAI, kota kecil di pinggiran Medan, terkenal dengan pepaya dan semangat, warganya yang keras tapi hangat. Dari tanah inilah Daniel berasal [kampung yang membentuk karakternya: tangguh, sederhana, dan tidak banyak bicara].

Di masa kecilnya, Binjai adalah kota perlintasan ekonomi antara pesisir dan dataran tinggi. Ayahnya, seorang tokoh masyarakat yang dikenal disiplin, menanamkan nilai kerja keras.

“Saya dibesarkan dalam lingkungan di mana kata malu lebih berat dari kata gagal,” kenangnya suatu kali dalam perbincangan ringan.

Ketika remaja seusianya sibuk bermain bola di tepi sungai, Daniel memilih jalur disiplin. Akademi Militer menjadi panggilan jiwanya.

Dari sanalah karier panjangnya di tubuh TNI AD dimulai; hingga akhirnya mencapai posisi strategis sebagai Pangdam I/Bukit Barisan, wilayah yang membentang dari pesisir Aceh hingga perbatasan Sumut-Riau. Sebuah medan yang penuh dinamika, baik sosial, ekonomi, maupun keamanan.

Tak heran, ketika ia berbicara tentang geopolitik dan keamanan maritim Selat Malaka, ucapannya tak lahir dari tumpukan teori, melainkan dari pengalaman nyata di garis perbatasan.

“Selat Malaka itu bukan sekadar jalur kapal dagang. Di sanalah denyut ekonomi nasional beradu dengan ancaman lintas batas,” ujarnya suatu kali, menatap peta besar yang tergantung di ruang rapat.

Kini, dalam posisi sipilnya, Daniel membawa perspektif itu ke meja politik. Bagi dia, politik bukan panggung perebutan kekuasaan, melainkan arena menjaga kedaulatan dan keadilan rakyat.

Menyatukan Aceh dan Sumut; Inisiatif Harmoni.

SALAH SATU gagasan terbesarnya sebagai Ketua DPW adalah “Inisiatif Harmoni Aceh–Sumut”, sebuah program lintas daerah yang bertujuan memperkuat persatuan dan ekonomi rakyat di dua wilayah yang secara historis beririsan tapi sering terpisah dalam pembangunan.

“Wilayah barat Indonesia ini harus menjadi satu denyut ekonomi,” katanya. “Dari Lhokseumawe hingga Binjai, rakyat punya harapan yang sama: kerja, pendidikan, dan keadilan ekonomi.”

Program itu bukan sekadar jargon. Ia membayangkan jejaring koperasi rakyat pesisir, Sekolah Rakyat Industri dan Siber, serta pemberdayaan UMKM dan nelayan di kawasan pantai timur Sumatera.

Sebuah konsep yang berpadu antara disiplin militer dan sentuhan sosial kemanusiaan.

“Partai politik harus hadir bukan hanya di musim pemilu,” ujarnya pelan. “Tapi di saat rakyat kesulitan.”

Nada bicaranya menurun. Ia tahu persis bagaimana rasanya melihat ketimpangan dari dekat — terutama di pesisir utara Aceh dan pantai timur Sumatera Utara, tempat banyak keluarga nelayan hidup dari laut yang makin tak pasti.

Dari Krisis Global ke Mandiri Lokal.

KETIKA BICARA soal politik, Daniel sering mengaitkannya dengan konteks global. Baginya, isu partai tak bisa dilepaskan dari turbulensi dunia; krisis energi, pangan, hingga rantai pasok yang terguncang akibat perang dan konflik geopolitik. Ia membaca situasi itu dengan cara khas militer: analitis, sistemik, dan berbasis ancaman.

“Bangsa ini tidak boleh hanya menjadi penonton,” katanya.

“Kalau dunia sedang berebut sumber energi, kita harus pastikan rakyat kita tidak kekurangan listrik atau pangan.”

Pernyataan itu menandai cara berpikir baru di tubuh Partai Berkarya Sumut: politik yang berbasis kemandirian dan kesiapsiagaan nasional.