Punggawa Politik dan Kepentingan Titipan

oleh -877 Dilihat

KUALASIMPANG (AD) – Penundaan Musyawarah Daerah (Musda) ke – V Partai Golongan Karya Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, sisakan ‘Agitasi’ dan ‘Kohesi’ politik kepentingan individual merembet ke ‘Preseden’ ditubuh partai berlambang pohon beringin itu.

Atas politik kepentingan itu, mencoreng arti dan nilai demokrasi global ditubuh partai. Imbasnya merembet di 12 Pimpinan Kecamatan (PK) dalam Kabupaten Aceh Tamiang. Gesekan itu semakin membekas saat ketua DPD I Partai Golkar Muhammad Nurlif menunda tiga hari keputusan Muda ke V itu.

Sejumlah pemerhati menggambarkan, kalau penundaan Musyawarah Daerah (Musda) ke-V Partai Golkar Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebuah preseden yang tercipta dari suatu mekanisme rule di dalam tubuh partai itu.

Proses Musda itu sendiri ada muatan kepentingan diluar konteks tata tertib (Tatib) Musda, kesannya sengaja dicampur adukkan kedalam pokok kegiatan yang sedang berlangsung.

Meski begitu, kejelian politiklah mengungkap para pemilik kepentingan di kepengurusan tingkat Kecamatan. Persoalan yang bertolak belakang dari 10 Pimpinan Kecamatan (PK) mendapat sambutan positif dari para Pengurus Kecamatan (PK) selaku peserta Musda pemilik hak suara.

Penggiringan dari sebuah episode ambisi begitu terasa mewarnai Musda-V Golkar pada Rabu (22/7/2020) kemarin. Namun mereka yang merasa punggawa politik, tidak mudah bisa diterima oleh seluruh PK, pemilik hak suara. Penggiringan itu ditolak dari para PK. Rasa keberatan yang dibarengi penolakan juga muncul seketika dari para sesepuh dan senior Golkar didaerah itu.

“Kalau kita lihat, apa yang dilakukan oleh seluruh PK itu memang sudah tepat. Karena yang diusungnya itu seorang Pengurus PD II setempat sesuai yang diamanatkan oleh Juklak Musda,” ujar seorang sesepuh Golkar.

Dilansir atjehdaily.id, dari data di arena Musda ke V itu, suara mutlak PK-lah yang berhak penuh dalam menentukan siapa sosok yang layak untuk menjadi pimpinan mereka di DPD II Partai Golkar Aceh Tamiang, bermula tampak tenang dan dingin mulai terlihat berubah.

Permainan tak cantik itu, dibaca oleh PK, peran itu diambil alih secara personal, untuk dan mengendalikan diri menjaga stabilitas suhu permainan agar proses jalannya Musda tetap normal.

Meskipun demikian, geliat 10 PK mulai ditampakkan juga melalui perwakilannya masing-masing dari 3 Dapil yang ada. Dengan gamblang dan semangat berapi-berapi telah menentukan sikap tegasnya untuk mendukung Adriadi, SE sebagai Ketua DPD II Aceh Tamiang.

Dari amatan, sejak pagi dikegiatan Musda ke V telah tercium adanya dagelan permainan nakal, dihembuskan dari Ketua DPD I Aceh dalam Musda-V PG Aceh Tamiang ini.