Bupati menilai, media sosial dapat menjadi sarana dakwah yang efektif apabila dimanfaatkan secara bijak. Sebaliknya, jika tidak disertai etika, ruang digital dapat memicu perpecahan, penyebaran informasi yang tidak benar, hingga menurunnya kualitas hubungan sosial.
Selain mengajak masyarakat membangun etika digital, Bupati Armia juga meminta para kader ulama berperan aktif membantu proses pemulihan mental dan spiritual warga pascabencana yang melanda Aceh Tamiang beberapa waktu lalu.
Ia berharap para dai muda mampu menghadirkan ketenangan melalui dakwah yang menyejukkan serta menguatkan semangat masyarakat untuk bangkit.
“Sampaikan juga pesan kepada masyarakat agar tetap bersabar, memperbanyak doa, dan terus menjaga ikhtiar. Insyaallah, kita semua dapat segera pulih dari dampak bencana ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tamiang, Syahrizal Darwis, mengatakan program Pendidikan Kader Ulama merupakan bagian dari upaya strategis mencetak ulama yang memiliki kompetensi keilmuan, integritas, serta kepedulian terhadap persoalan umat.
Menurut Syahrizal, seorang ulama tidak lahir secara instan. Dibutuhkan proses pendidikan, pembinaan, dan penguatan karakter yang berkesinambungan agar mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
“Untuk melahirkan ulama yang berkualitas tentu dibutuhkan wadah pengkaderan yang baik. Salah satu ikhtiar nyata yang kami lakukan adalah melalui Pendidikan Kader Ulama ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan sejumlah pemateri yang memiliki kapasitas dan pengalaman dalam bidang keagamaan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, para peserta diharapkan tidak berhenti pada tataran teori, melainkan segera turun ke tengah masyarakat untuk menyebarluaskan ilmu yang diperoleh.
“Mereka harus hadir di desa-desa, membimbing masyarakat, memperkuat nilai-nilai keagamaan, sekaligus menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial yang berkembang,” tutur Syahrizal.
Program PKU Angkatan XIII diharapkan mampu melahirkan generasi ulama muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh.
Di era digital saat ini, dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar, tetapi juga hadir melalui layar gawai yang setiap hari diakses masyarakat.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, ulama dituntut bukan hanya mampu menyampaikan ajaran agama, tetapi juga hadir sebagai penuntun moral di ruang digital.
Harapan Bupati Armia Pahmi agar para kader ulama menjadi pelopor etika bermedia sosial sekaligus penguat mental masyarakat pascabencana menunjukkan bahwa dakwah kini memiliki dimensi yang lebih luas. [
Dari mimbar hingga media sosial, dari masjid hingga desa-desa, peran ulama tetap menjadi cahaya yang diharapkan mampu menjaga harmoni, memperkuat persaudaraan, dan mengantarkan masyarakat Aceh Tamiang menuju pemulihan yang utuh. [].











