REDELONG, (AD) – Direktur LSM Rampung Institute, Waladan Yoga meminta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Bener Meriah evaluasi dari jabatannya.
Sebab, dirinya menilai Susnaini tidak mampu menjabat Kepala DPPPAKB atas peristiwa pengunduran diri paralegal P2TP2A yang selama ini sebagai lembaga pendamping korban pelecehan seksual di Kabupaten Bener Meriah.
Hal itu disampaikan Waladan Yoga kepada awak media, Selasa 18 Oktober 2022.
Menurutnya, keberadaan paralegal sebagai pendamping korban pelecehan seksual itu penting, terlebih kasus pelecehan sangat tinggi di Bener Meriah.
“Jujur, saya terkejut dengan berita pengunduran diri paralegal P2TP2A. Tentu mereka mundur karena ada persoalan di lembaga itu yang sangat serius,” ucapnya.
Padahal, kata Waladan, ditengah tingginya kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur sangat membutuhkan tenaga pendampingan, tapi mereka malah mengundurkan diri, oleh sebab itu perlu di evakuasi kinerja Kadisnya.
“Paralegal itu sebagai pendamping para korban, tapi sayang harus mundur ini menandakan ketidak beresan kepala dinasnya, maka sudah selayaknya diberhentikan” tegas Waladan.
Dikatakan Waladan, terkait keluhan paralegal yang hanya mendapatkan. Honor 300 ribu perbulan tentu itu sangat disayangkan, padahal sudah ada ketentuan dari kementrian.
“Saya rasa kepala DPPPAKB tidak punya hati, seharusnya dia (Susnaini) memiliki rasa malu melihat kondisi bawahannya,”tukasnya
Terkait hal itu, Waladan menilai, kepala DPPPAKB Bener Meriah Susnaini hanya mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan daerah terkait pendampingan untuk para korban pelecehan seksual.
“Memang, berdasarkan informasi yang kita dapat, Susnaini kurang memiliki tanggung jawab moral, dia bahkan terkesan arogan terhadap korban pelecehan seksual. Ini sangat memalukan,” kata Waladan.
Direktur Ramung Istitute ini menegaskan, Penjabat (Pj) Bupati Bener Meriah, Haili Yoga harus mencopot Susnaini dari jabatannya sebagai Kepala DPPPAKB sekaligus ketua P2TP2A Bener Meriah.
“Halili Yoga harus tegas dalam persoalan ini, karena menyangkut marwah daerah. Sangat jelas Susnaini mempermalukan Pj Bupati,” tuturnya.
Seperti yang di beritakan sebelumnya, sebayak lima orang paralegal P2TP2A Kabupaten Bener Meriah mengundurkan diri ditengah maraknya kasus pelecehan seksual di daerah penghasil kopi Arabika gayo itu.
Meraka beralasan sudah tidak sanggup lagi bekerja siang dan malam mendampingi para korban pelecehan.
“Saat ini banyak kasus yang di dampingi paralegal, namun kami tidak mendapatkan dukungan dana dan fasilitas yang maksimal,”kata salah seorang paralegal.
Ia menerangkan, selama ini pihaknya bekerja siang dan malam untuk mendampingi para korban pelecehan dengan anggaran seadanya. Namun untuk kedepan kami sudah tidak sanggup lagi, jelasnya.
“Semalam kami sepakat secara bersama-sama mengundurkan diri karena sudah tidak sanggup lagi,”ujarnya.
Adapun paralegal yang mengundurkan diri tersebut diantaranya, Sahwani, Ema Susanti, Dwi Handayani, Zubaidah, dan Emani Muzaputri.
Mereka berharap, pemerintah daerah segera mengambil langkah secepatnya, sebab saat ini banyak korban pelecehan yang sangat perlu pendampingan, tutupnya. ( Abdul Rahman).











