Laporan | Syawaluddin
BANDA ACEH (AD) – Muhammad Husen 57 lelaki legam warga Gampong Cot Cut, Aceh Besar, Aceh. Itu terlihat lunglai, menatap kandang sapinya telah rata tanah disuatu sore.
Hari hari Husen, dihabiskan mengurus sapi dan sepetak tanaman rumput gajah (makan sapi) untuk menghidupi dia dan keluarganya.
Asanya pupus, mana kala gubernur Aceh membentuk Tim Terpadu Penataan Kawasan Kanal Banjir Krueng Aceh dengan SK Nomor : 362/1337/2020.
Menggusur paksa aktifitas yang ada dibataran Kanal Krueng Aceh, Kebun, Kandang Sapi, serta Tanaman yang ada didalamnya, rata dengan tanah.
Penggusuran paksa pun berlanjut hingga kini, Gubernur dengan menggunakan tangan TNI dan Polri meluluhlantakkan apa yang ada di Bataran Kanal Krueng Aceh.
Sebelum penggusuran paksa dilakukan, masyarakat masih bisa melakukan aktifitas ekonominya, terlebih saat pandemi Covid 19 hari ini. Sendi ekonomi mereka hancur.
Bataran Kanal Krueng Aceh inilah, satu satunya topangan hidup mereka, untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Kehidupan ekonomi tumbuh subur di wilayah timur Kota Banda Aceh, Aceh Besar. Pasca tsunami 16 tahun silam. Hingga kini wilayah bataran Krueng Aceh jadi tempat kunjungan wisata lokal sebab memiliki nilai nilai estetika yang sangat mempesona.
Geliat ekonomi sangat kentara, mereka yang berjualan makanan dan minuman khas Aceh menjamur disepadan bataran DAS Krueng Aceh.
Itu dulu, sebelum penggusuran, kini sapi sapi yang ada tak tau harus dibawa kemana, terpaksa mereka jual dengan harga murah.











