Jangan Gusur Kami Pak…!!!

oleh -468 Dilihat

Wilayah itu kini, rata dengan tanah, hanya rerumputan saja yang masih tersisa, sementara tumbuhan tanaman penghasil uang telah sirnasirna (Pinang, Mangga, Pisang, Kacang Kacangan, Cabai, Terong).

“Saya ndak bisa bilang apa apa lagi pak  kalau sudah terjadi seperti ini, mau kita bangun kadang dikampung, ndak bisa, rumah sudah padat, bisa marah orang sama saya,” Jelas Husen pada suatu bincang dengan atjehdaily.id. Minggu, 25 Oktober 2020 di Cot Iri, Aceh Besar, Aceh.

Ada permohonan dari Husen, agar Gubernur meninjau kembali putusannya melaui SK Nomor 362/1337/2020, banyak sekali masyarakat yang butuh dan menopang hidup di bataran Krueng Aceh itu.

Lelaki legam, bertudung coklat itu, dibalut kemeja putih bercorak biru itu berkesah agar suaranya didengar oleh Pelaksana Tugas Gubernur Aceh. Tidak hanya Husen, tapi seratusan orang yang menggantungkan hidup di Bataran itu, juga berharap.

“Kami potong semua pohon yang ada di bataran ini, pohon pinang, mangga, durian dan pohon lainnya, sesuai dengan perintah, kami ikuti, kalau tidak mau nanti dikatakan kami melawan pemerintah,” katanya.

Jika bataran ini dibersihkan seluruhnya, tanpa ada tanaman pengikat tanah, malah sebaliknya akan mengikis sepadan bataran tersebut.

Sebaliknya menciptakan peluang banjir, Husen menuturkan, selama puluhan tahun, hingga saat ini, ketika air bah pun, bataran kanal ini sanggup menampung air bah dan tak pernah meluap kekampung.

“Saya minta, tolong pak Gubernur jangan  gusur kami, hanya ini milik pemerintah yang bisa menghasilkan ekonomi bagi kami, masyarakat Aceh Besar,” pungkasnya. (*)