Laporan | Ahmad Fadil
Banda Aceh (AD)- Gubernur Aceh Nova Iriansyah rencananya akan kembali melakukan kunjungan ke Abu Dhabi Uni Emirat Arab dalam rangka memperkuat kerjasama bidang investasi di sektor pariwisata di Aceh.
Untuk mendukung hal tersebut, Gubernur Aceh telah meminta arahan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan (LBP).
Rencana kunjungan delegasi Pemerintah Aceh ke Abu Dhabi dalam rangka menindaklanjuti Incentive Requirements (Persyaratan Insentif) sesuai permintaan Murban Energy Limited pada sektor pariwisata.
Dalam pertemuan tersebut, turut hadir Dubes Republik Indonesia di Abu Dhabi Husen Bagis, Kepala BPKS Iskandar Zulkarnain, Bupati Aceh Singkil Dulmusrid. Pertemuan ini dilakukan secara virtual pada Rabu 10 Februari 2021 kemarin.
“Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa dalam pertemuan tersebut, Bupati Aceh Singkil masih ikut diundang. Padahal beberapa waktu lalu, Pulau Banyak tidak lagi menjadi bagian dark investasi Uni Emirat Arab. Siapa yang undang, apakah Gubernur atau Pihak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Apakah Pulau Banyak masih menjadi target prioritas Kementerian Maritim dan Investasi dalam pembangunan sektor pariwisata,” tanya Usman Lamreung, Sabtu 13 Februari 2021 di Banda Aceh.
Patut diduga ada masalah investasi di Pulau Banyak. Sepertinya ada tolak tarik kepentingan sehingga dengan alasan belum memenuhi infrastruktur dasar Pemerintah Aceh pindahkan lokasi dengan menunjuk Sabang dan Pulo Aceh ke Uni Emirat Arab sebagai investor untuk pengembangan sektor pariwisata.
Padahal menurut Usman, kondisi Pulo Aceh hampir sama dengan Pulau Banyak, yaitu persoalan infrastruktur dasar yang belum juga beres.
“Dengan perubahan tersebut, tentu mengharuskan Pemerintah Aceh untuk meyakinkan UEA selaku penyokong dana, sehingga perlu melakukan kunjungan ke Abu Dhabi untuk menjelaskan kembali dengan data-data baru dan argumentasi kenapa harus dipindahkan ke Sabang dan Pulo Aceh,” ujarnya.
Selain itu, Usman juga menyinggung tentang gagalnya pembangunan sektor pariwisata di Pulau Banyak yang berdampak besar kepada pemerintahan Nova Iriansyah, masyarakat khususnya di Pantai Barat Selatan yang sangat kecewa.
Masyarakat Barat Selatan saat ini menganggap Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Nova Iriansyah hanya bisa memberikan janji dan angin kosong tanpa ada realisasi dan bukti hanya basa basi untuk mendongkrak popularitas dengan haba mangat (Cerita Enak) investasi di Pulau Banyak.
“Dengan gagalnya investasi di Pulau Banyak, maka sangat berdampak kepada tingkat kepercayaan publik terhadap Pemerintah Aceh yang semakin turun, dan sudah barang pasti juga berdampak turunnya elaktabiltas Nova. Selain itu, efeknya Pak Nova Iriansyah tidak akan lagi dipilih pada priode kedua Pilkada 2024,” ungkap Usman.
Ini bisa dilihat dari hasil survey lembaga Yayasan Konsultan Riset dan Bisnis Indonesia, dimana posisi elaktabiltas Gubernur Aceh Nova Iriansyah berada dinomor urut paling terakhir di bawah.
“Artinya, masyarakat Aceh sudah mulai muak dengan janji-janji tanpa realisasi,” ungkap Usman Lamreung.
Seharusnya, Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Nova Iriansyah fokus untuk merealisasikan berbagai janji-janji politik yang sudah dirumuskan dalam Aceh Hebat. Sudah cukup dengan janji -janji tanpa realisasi. Investor sektor pariwisata di Pulau Banyak terkendala dengan infrastruktur dasar.
Terkait dengan kendala infrastruktur, itu sudah menjadi kewajiban Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk menyediakan apa yang dibutuhkan oleh investor dengan anggaran melalui APBN, APBA dan APBK.
“Bukan malah memindahkan ke lokasi lain,” tegas Usman.
Padahal lokasi lain sebenarnya banyak investor yang sudah ditawarkan, namun gagal alias hengkang akibat sarana dan infrasturktur dasar tidak memenuhi standar.
“Maka sudah sepatutnya Pemerintah Aceh menyediakan infrastruktur dasar dan mampu menjamin berbagai kepastian hukum agar investor bisa nyaman,” tutup Usman Lamreung.












