Perwakilan dari Disabilitas Erlina Marlinda dari CYDC Aceh mengusulkan pemberian beasiswa afirmatif untuk penyandang disabilitas dan penerapan prinsip aksesibilitas di seluruh layanan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur kota, termasuk pembangunan trotoar, toilet di lokasi wisata, rumah ibadah, pasar, sekolah, dan taman kota.
Ia juga mengusulkan peningkatan kapasitas aparatur gampong dalam penanganan bencana yang inklusif, serta pembentukan forum Disabilitas.
Perwakilan dari orang muda minoritas Kevin Leonardy mengusulkan pentingnya pelatihan aparatur gampong dalam penanganan bencana yang inklusif terhadap kelompok minoritas, serta transparansi data DTKS terintegrasi untuk kelompok disabilitas, lansia, dan minoritas.
Kevin mendorong terbentuknya forum Minoritas sebagai ruang kolaborasi yang setara.
Menanggapi beberapa masukan dari perwakilan CSO yang telah menyampaikan pendapatnya, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan, kertas kebijakan yang diberikan sangatlah penting bagi pemerintah kota.
“Dokumen ini langsung saya kirimkan ke perumus yang lagi berdiskusi tentang rencana pembangunan daerah kota banda aceh, dan kita akan berupaya mengakomodir masukan-masukan yang tertera didalam kertas kebijakan yang telah diberikan,” ungkap Illiza.
Menurut Illiza, peran organisasi masyarakat sipil sangat penting dalam pembangunan Kota Banda Aceh. “Audiensi seperti ini membuka ruang untuk menyatukan ide, membangun kepercayaan, dan mempercepat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat,” pungkasnya.
Baik Wali Kota maupun Wakil Wali Kota menyambut baik kegiatan ini dan menyatakan komitmennya untuk mendorong forum-forum dialog serupa di masa depan sebagai bentuk keterbukaan dan sinergi kebijakan.
Hasil audiensi ini akan dirangkum dalam dokumen rekomendasi dan ditindaklanjuti oleh dinas-dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh.
Wali Kota meminta GeRAK Aceh menjadi leading sector dalam membuat Forum Suara Warga Kota Banda Aceh untuk mengakomodir kebutuhan warga Kota..(*)











