Surabaya (AD)- Pakar Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Wulan Saroinsong, Ph.D., menyambut positif gagasan Sekolah Berdaya. Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi langkah strategis untuk melindungi siswa dari tekanan struktural dalam sistem pendidikan.
Wulan menilai, berbagai persoalan pendidikan hari ini tidak bisa lagi dipandang semata sebagai persoalan teknis kurikulum atau administratif.
Ia menekankan bahwa, tekanan struktural, baik dalam bentuk beban birokrasi, standar seragam yang kaku, maupun minimnya ruang dialog, berdampak langsung pada kesejahteraan psikologis siswa dan guru.
“Ketika sekolah terlalu dibebani orientasi administratif dan target formal, ruang aman bagi perkembangan psikologis anak bisa terabaikan. Padahal rasa aman dan dukungan emosional adalah prasyarat pembelajaran yang bermakna,” ujarnya, Minggu, 8 Februari 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul menguatnya wacana reformasi pendidikan yang diinisiasi lembaga kajian kebijakan publik IndexPolitica. Direktur Eksekutif IndexPolitica, Alip Purnomo, sebelumnya memperkenalkan konsep Sekolah Berdaya sebagai upaya memperkuat otonomi sekolah dan mengurangi beban administratif yang dinilai membebani warga sekolah.
Wacana ini mencuat setelah tragedi kematian prematur YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam pernyataannya, Alip menyebut peristiwa tersebut sebagai bentuk social murder. Istilah yang merujuk pada kematian yang dipengaruhi oleh tekanan dan kondisi struktural yang sistemik, bukan semata persoalan individual.











